Apakah Salah Menjadi Hamba yang “Ramadhani”?

Setiap tahun, selepas Ramadhan berlalu, kita kembali mendengar satu kalimat yang sangat familiar di mimbar-mimbar dakwah:

“Jadilah hamba yang Rabbani, bukan Ramadhani.”

Pesan ini jelas baik. Bahkan sangat baik. Ia ingin menegaskan bahwa ibadah tidak boleh bersifat musiman. Bahwa kebiasaan baik yang dibangun selama Ramadhan; shalat berjamaah, tilawah, qiyamullail, sedekah; seharusnya tidak ikut menghilang bersama hilangnya bulan suci.

Ramadhan bukan tujuan, melainkan latihan.

Dan target akhirnya sudah jelas disebutkan dalam Al-Qur’an: la‘allakum tattaqūn — agar kamu menjadi orang yang bertakwa.

Namun, di balik kuatnya narasi ini, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan:

Apakah kembalinya seseorang pada ritme lama setelah Ramadhan otomatis menandakan bahwa Ramadhannya gagal?

Apakah setiap orang yang tidak mampu mempertahankan intensitas ibadah Ramadhan harus langsung “divonis” belum mencapai target?

Atau jangan-jangan, kita sedang menggunakan standar yang terlalu tinggi, bahkan tidak proporsional?

Di titik ini, menarik untuk menghadirkan perspektif penyeimbang. Emha Ainun Najib, yang biasa disapa Cak Nun pernah menyampaikan satu refleksi yang menenangkan:

“Di zaman Rasulullah, ketika atmosfer keimanan begitu kuat, di tengah negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun gafuur,  sholat ratusan rakaat sehari bisa menjadi hal yang biasa.
Tapi di zaman kita hari ini—yang penuh distraksi, tekanan hidup, dan keruhnya peradaban—mampu menjaga shalat lima waktu saja sudah luar biasa.”

Kutipan ini tentu bukan untuk merendahkan standar ibadah. Ia hanya mengajak kita jujur melihat realitas. Bahwa konteks zaman memengaruhi kapasitas. Bahwa konsistensi kecil di tengah kondisi sulit, bisa jadi lebih bernilai daripada intensitas besar yang hanya sesaat.

Dalam hadis yang sangat terkenal, riwayat Jabir bin Abdullah, seorang sahabat pernah datang kepada Nabi dan bertanya tentang amalan paling minimal yang bisa mengantarkannya ke surga. Ia berkata:

“Bagaimana pendapatmu jika aku telah melaksanakan shalat-shalat wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambah sedikit pun atas hal itu, apakah aku akan masuk surga?” Beliau menjawab: “Ya.”

Hadis ini sering luput dari cara kita memandang “standar ideal” seorang muslim. Bahwa sejak awal, Nabi sendiri membuka ruang bahwa menjaga yang wajib secara konsisten saja sudah merupakan jalan keselamatan.

Dari sini, kita bisa mulai melihat ulang narasi “Rabbani vs Ramadhani”. Betul menjadi hamba Rabbani adalah cita-cita. Tapi bukan berarti menjadi “Ramadhani” adalah kegagalan.

Tidak semua orang mampu menjaga ritme Ramadhan sepanjang tahun. Dan itu manusiawi.

Bahkan, bisa jadi: Orang yang rajin ibadah hanya di Ramadhan, lebih baik daripada yang tidak punya momentum ibadah sama sekali. Orang yang hanya khatam Al-Qur’an setahun sekali, lebih baik daripada yang tidak pernah membuka mushaf sama sekali. Orang yang hanya merasakan qiyamullail di bulan Ramadhan, lebih baik daripada yang tidak pernah merasakannya sama sekali. 

Karena yang berbahya itu bukan menjadi muslim “musiman”, tapi menjadi muslim yang tidak punya musim sama sekali.

Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag, Ustadz di Cariustadz.id

Tertarik mengundang Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag? Silakan klik disini