Dengan membaca judul ini saja, pembaca sudah terbayang bahwa jawabannya adalah QS. Al-‘Alaq 1-5. Karena memang ini sudah diajarkan dalam pelajaran Agama Islam, bahkan sejak Sekolah Dasar.
Namun, ternyata pemaparan ‘Ulama al-Qur’an tidak simpel seperti itu. Ada beberapa paparan yang menarik untuk kita input untuk tambahan wawasan dan pengetahuan kita bersama. Salah satunya adalah pemaparan dalam kitab Al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an karya Jalaluddin As-Suyuthi.
Pendapat Pertama
Jalaluddin As-Suyuthi mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Sayyidah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha:
أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ الِلَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ
Pertama kali Rasulullah Saw menerima wahyu adalah mimpi yang benar dalam tidur, Maka Rasulullah SAW tidak melihat mimpi kecuali mimpi itu datang seperti cahaya subuh
ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ فَكَانَ يَأْتِي حِرَاءَ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ اللَّيَالِي ذَوَاتِ الْعَدَدِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ رَضِيَ الِلَّهِ عَنْهَا
Kemudian Rasulullah SAW dibuat senang menyendiri, maka beliau pergi ke gua hira untuk beribadah di dalamnya beberapa malam yang dapat dihitung dan membawa perbekalan untuk itu, kemudian kembali pada Sayyidah khadijah Radhiyallahu ‘Anha.
فَتُزَوِّدُهُ لِمِثْلِهَا حَتَّى فَجَأَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءَ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فِيهِ فَقَالَ: اقْرَأْ قَالَ رَسُولُ الِلَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَقُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ
Maka Sayyidah Khadijah RA, memberikan pada beliau perbekalan sebagaimana sebelumnya. Hingga Al-Haq (Kebenaran) itu membuat Rasulullah SAW terkejut, sedangkan beliau ada di Gua Hira. Maka datang malaikat Jibril padanya di gua itu. Malaikat berkata: Bacalah wahai Muhammad! Nabi Saw bersabda: saya tidak
dapat membaca.
Kemudia hal serupa terulang, sampai pada kali ketiga malaikat Jibril AS membacakan pada Nabi Muhammad SAW, QS. Al-‘Alaq: 1-5. Sampai Rasulullah Saw selesai menerima wahyu itu dan pulang dalam keadaan gemetar.
Pendapat QS. Al-‘Alaq: 1-5 juga diperkuat oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan Al-Baihaqi dalam kitab Ad-Dalail, Demikian pula Ath-Thabrani dalam kita Al-Kabir dengan sanad yang sahih.
Pendapat Kedua
Juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Salamah bin ‘Abd ar-Rahman yang berkata: Aku pernah bertanya kepada Jabir bin ‘Abdillah: Mana ayat yang diturunkan terlebih dahulu? Ya Ayyuhal Muddatstsir atau Iqra bismi rabbika?
Jabir menjawab: Aku ceritakan padamu, apa yang pernah Rasulullah SAW kepadaku. Beliau bersabda:
إِنِّي جَاوَرْتُ بِحِرَاءَ فَلَمَّا قَضَيْتُ جِوَارِي نَزَلْتُ فَاسْتَبْطَنْتُ الْوَادِي فَنَظَرْتُ أَمَامِي وَخَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَشِمَالِي ثُمَّ نَظَرْتُ إِلَى السَّمَاءِ فَإِذَا هُوَ يَعْنِي جِبْرِيلَ فَأَخَذَتْنِي رَجْفَةٌ فَأَتَيْتُ خَدِيجَةَ فَأَمَرَتْهُمْ فَدَثَّرُونِي فَأَنْزَلَ الله: {يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ}
Sesungguhnya aku pernah berdiam di Gua Hira. Ketika masaku berdiam di sana telah selesai, aku pun turun dan memasuki lembah. Lalu aku memandang ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri. Kemudian aku memandang ke langit, ternyata dia yakni Jibril berada di sana. Maka tubuhku pun diliputi rasa gemetar.
Kemudian aku mendatangi Khadijah dan ia memerintahkan mereka untuk menyelimutiku. Lalu Allah menurunkan firman-Nya: ‘Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan.
Ketika ada dua hadis dengan derajat yang sepadan, maka kita bisa mengkompromikan sambil meninjau berbagai pendapat ‘Ulama. as-Suyuthi menanggapi kedua hadis ini dengan:
Pendapat Ketiga
Az-Zamakhsyari dalam Al-Kasyaf menyatakan bahwa yang pertama kali diturunkan Al-Qur’an adalah surat Al-Fatihah;
ذَهَبَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَمُجَاهِدٌ إِلَى أَنَّ أَوَّلَ سُورَةٍ نَزَلَتْ “اقْرَأْ ” وَأَكْثَرُ الْمُفَسِّرِينَ إِلَى أَنَّ أَوَّلَ سُورَةٍ نَزَلَتْ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ
Ibnu ‘Abbas dan Mujahid berpendapat bahwa surah yang pertama diturunkan adalah Iqra’ dan sebagian besar ahli tafsir berpendapat bahwa surah yang pertama turun adalah fatihatul kitab.
Respon menarik datang dari al-Qadhi Abu Bakar dalam kitab al-Intishar yang dinukil oleh Manna’ al-Qaththan dalam Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an bahwa:
وهذا الخبر منقطع، وأثبت الأقاويل: {اقْرَأَ بِاسْمِ رَبِّكَ} ويليه في القوة: {يا أَيُّهَا المُدَّثِّر} .. وطريق الجمع بين الأقاويل أن أول ما نزل من الآيات: {اقْرَأَ بِاسْمِ رَبِّكَ} وأول ما نزل من أوامر التبليغ: {يا أَيُّهَا المُدَّثِّر} .. وأول ما نزل من السور سورة الفاتحة
Hadis yang diriwayatkan Abu Ishaq dari Abu Maisarah ini dinilai Munqathi’ (terputus) oleh al-Qadhi Abu Bakar dalam Kitab al-Intishar.
Maka, cara mengkompromi hadis-hadis ini adalah: Ayat pertama turun: Iqra’ bismi Rabbik, Ayat perintah tabligh pertama: QS. Al-Muddatstsir dan Surat yang turun pertama kali secara utuh: al-Fatihah. Demikianlah beberapa pemaparan mengenai Ayat Al-Qur’an yang pertama diturunkan.
Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Pendiri Antassalam Institute dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini