Dalam beberapa riwayat hadis, Nabi Muhammad SAW berulang kali menerima pertanyaan yang sama: amalan apa yang paling utama? Namun menariknya, pertanyaan itu datang dari orang yang berbeda, pada kesempatan yang berbeda, dan dijawab dengan jawaban yang berbeda pula.
Dalam salah satu riwayat, seorang sahabat bertanya kepada Nabi SAW
أَيُّ الأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟
Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?
Kepada penanya ini, Nabi SAW menjawab: shalat tepat pada waktunya. Jawaban ini menegaskan bahwa fondasi utama hubungan seorang hamba dengan Allah adalah menjaga shalat. Bagi seseorang yang masih lalai dalam shalat, memperbaiki ibadah ini menjadi pintu utama menuju kebaikan yang lain.
Dalam riwayat lain, pertanyaan serupa kembali diajukan oleh sahabat yang berbeda (dengan redaksi ayyul a’amali afdhal). Namun kali ini, Nabi SAW menjawab dengan penekanan yang berbeda pula: (amalan yang paling utama adalah) berbakti kepada kedua orang tua. Jawaban ini menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, persoalan utama bukan lagi ibadah ritual, melainkan bagaimana ia memperlakukan orang tua yang paling berjasa dalam hidupnya. Kesalehan tidak cukup diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari cara seseorang menjaga relasi keluarganya.
Pada kesempatan yang lain lagi, pertanyaan tentang amalan paling utama kembali diajukan oleh orang yang berbeda. Kali ini Nabi SAW menjawab: jihad di jalan Allah. Jawaban ini mencerminkan tuntutan pengorbanan yang lebih luas, menyangkut tanggung jawab sosial dan komitmen terhadap kebenaran. Jihad, dalam pengertian luasnya, adalah bentuk kesungguhan total dalam membela nilai-nilai Islam, baik dengan tenaga, harta, maupun keberanian moral.
Ketiga jawaban ini—shalat tepat waktu, berbakti kepada orang tua, dan jihad di jalan Allah—tidak saling menegasikan. Bukan pula berarti bahwa Rasulullah “lupa” terkait jawaban beliau di hari kemarin. Justru sebaliknya, semuanya menunjukkan cara Nabi Muhammad SAW membaca kondisi penanya. Beliau tidak memberikan jawaban normatif yang seragam, melainkan jawaban yang paling relevan dengan kebutuhan spiritual dan moral masing-masing orang.
Dari sini kita belajar bahwa keutamaan ibadah dalam Islam tidak bersifat tunggal dan statis. Amalan paling utama adalah amalan yang paling dibutuhkan oleh seorang mukallaf pada fase hidupnya. Islam tidak mengajarkan perlombaan ibadah yang kaku, tetapi ketepatan dalam menunaikan kewajiban sesuai konteks.
Keutamaan ibadah, dengan demikian, tidak terletak pada keseragaman amal, tetapi pada kejujuran membaca diri. Seseorang boleh jadi rajin beribadah, namun belum tentu sedang mengerjakan yang paling dibutuhkannya. Di titik inilah ajaran Nabi menantang kita untuk tidak sekedar bertanya apa yang paling utama, melainkan berani bercermin: tanggung jawab apa yang hari ini paling harus ditunaikan?
Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag, Ustadz di Cariustadz.id
Tertarik mengundang Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag? Silakan klik disini