Kehilangan adalah bagian dari kehidupan manusia. Hidup akan mati, jabatan akan berganti, rezeki tak selamanya berlebih dan juga kesedihan tak selalu hinggap; Semuanya silih berganti, termasuk kebahagiaan dan kesenangan yang kita rasa hari ini. Maka jangan sampai saat kesenangan dan kenikmatan kita dicabut dalam sementara waktu, asa kita memadam dan hati kita remuk redam,
Terlebih lagi, kita tidak akan pernah benar-benar mensyukuri nikmat dan anugerah dari Allah Swt, sampai sewaktu-waktu Allah menguji kita dengan kehilangan berbagai nikmat dan anugerah itu. Seperti sehat yang berganti sakit ataupun kecukupan harta yang berganti dengan kondisi serba kekurangan.
Tentu; bagi Al-Qur’an ini bukanlah hal yang mengejutkan, Allah Swt berfirman dalam QS. Hud: 9
وَلَىِٕنْ اَذَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنٰهَا مِنْهُۚ اِنَّهٗ لَيَـُٔوْسٌ كَفُوْرٌ
Sungguh, jika Kami cicipkan kepada manusia suatu rahmat dari Kami kemudian Kami cabut kembali darinya, sesungguhnya dia menjadi sangat berputus asa lagi sangat kufur (terhadap nikmat Allah).
Kufur Nikmat dan Mudah Putus Asa
Uniknya, kita kerap lalai saat nikmat dan anugerah itu tengah hinggap dalam hidup kita. Bahkan, kita sanggup meremehkan, merendahkan bahkan menginjak-injak siapapun yang kita “rasa” derajatnya lebih rendah. Kalau dalam bahasa Al-Qur’an pada QS. Hud: 10 ini disebut dengan لَفَرِحٌ فَخُوْرٌۙ sangat gembira lagi sangat membanggakan diri.
Wahbah al-Zuhaily (w. 1436H) dalam Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj menerangkan bahwa maksud dari kalimat ذَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَة adalah Allah hanya memberikan kenikmatan yang sedikit. Sederhananya; nikmat-nikmat yang selama ini kita senangi dan banggakan, tidak lebih dari sekedar cicipan belaka.
Contoh daripada sifat kufur nikmat dari manusia adalah ketika mereka diberikan anugerah seperti kesehatan, rezeki, rasa aman, ketentraman, anak yang baik dan berbakti serta nikmat-nikmat lainnya; ketika salah satu dari banyaknya kebaikan ini dicabut, maka manusia akan merasa berputus asa. Seolah-olah hidupnya selesai; ia menyangkal apa yang sudah ia dapatkan sebelumnya.
Inilah kenapa Al-Qur’an memilih diksi نزعناها dalam menggambarkan pencabutan nikmat. Sebab sekaligus ingin menunjukkan ketergantungan yang begitu besar dengan nikmat serta sikap tahap terhadap nikmat-nikmat itu.
Pelajaran dan Hikmah
Ayat ini memberi pelajaran berarti, sebagaimana disampaikan pada kitab yang sama, Wahbah al-Zuhaily menerangkan:
وكلّ هذا يدلّ على أنّ في الإنسان طبائع سيئة وأمراضا فتاكة وهي اليَئِسُ من رحمة الله والكفر بنعمته, والبطر والفخر والتّكبّر ولا علاج لها إلّا بالصبر والإمان والرضا بالقضاء والقدر
Dan ini semua menunjukkan bahwa dalam diri manusia ada tabiat buruk dan penyakit mematikan; berputus asa dari rahmat-Nya dan kufur atas nikmatnya.
Sikap menyangkal, mudah kagum dan juga sombong; tidak ada obatnya kecuali dengan sabar, iman serta ridha dengan qadha dan qadar Allah Swt
Dengan iman dan rasa sabar, kita akan mengerti bahwa nikmat yang hari ini kita genggam hanyalah titipan. Dengan belajar untuk ridha, kita akan lebih berlapang dada dengan ujian dan kehilangan. Bukan karena lebih siap kehilangan, tapi kita sudah sadar bahwa kita tak ikut “memiliki” atas apa-apa yang Allah titipkan.
Pekerjaan boleh hilang, tapi rezeki lain sudah Allah siapkan pada ladang yang berbeda. Hanya, kita perlu untuk terus bersujud dan lanjutkan perjuangan. Reputasi boleh runtuh, tapi hati tak boleh terus-menerus rapuh. Kita boleh jelek di mata manusia, tapi selalu ada Allah yang menatap kita dengan penuh cinta, walau kita berlumur dosa.
Pembaca yang berbahagia, Nikmat itu datang dan pergi silih berganti. Tapi Allah tak pernah pergi, Allah selalu menunggu hambanya untuk kembali.
Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini