Ada Perkara yang Tak Kembali Ketika Kesembuhan Tiba

Sakit adalah bagian dari sunnatullah yang berlaku atas seluruh manusia. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindarinya, sebagaimana tidak ada seorang pun yang mampu menghindari usia tua dan kematian. Nabi, rasul, orang saleh, hingga manusia biasa, semuanya pernah merasakan sakit dan musibah. Perbedaannya bukan pada ada atau tidaknya ujian, melainkan bagaimana menyikapinya.

Allah swt. menjadikan sakit bukan sekadar fenomena biologis, tetapi juga sebagai sarana pendidikan iman. Melalui sakit, seorang hamba belajar tentang kelemahan dirinya, menyadari betapa besar nikmat sehat yang selama ini sering terlupakan, sekaligus kembali menggantungkan harapan hanya kepada Allah.

Karena itu, Islam tidak memandang sakit semata-mata sebagai penderitaan. Di balik rasa nyeri, kelemahan, dan keterbatasan yang menyertainya, tersimpan banyak hikmah yang hanya dapat dipetik oleh hati yang beriman. Bahkan, ada perkara yang hilang ketika seseorang sakit tidak akan pernah kembali saat ia sembuh, sesuatu yang positif.

Jangan Mencela Sakit atau Demam

Di antara bentuk ujian yang paling sering dialami manusia adalah demam. Ketika suhu tubuh meningkat, badan terasa lemah, dan aktivitas menjadi terbatas, tidak sedikit orang yang spontan mencela penyakit yang sedang dideritanya.

Padahal Rasulullah saw. melarang hal tersebut. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, dijelaskan oleh Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah saw. menjenguk Ummu al-Sa’ib dan bertanya, “Apa yang terjadi kepadamu wahai Ummu al-Sa’ib? Mengapa engkau menggigil?” 

Ummu al-Saib menjawab, “Demam, yang tidak ada keberkahan Allah padanya.

Rasulullah saw. pun bersabda, “Janganlah kamu mencela demam. Sebab, (ia) menghapus dosa-dosa anak Adam sebagaimana api menghilangkan (kotoran/karat) besi.”

Larangan ini mengandung adab yang sangat luhur. Seorang mukmin tidak diperkenankan mencela sesuatu yang Allah tetapkan sebagai bagian dari takdir-Nya. Bukan berarti kita dilarang berobat atau berharap segera sembuh. Rasulullah saw. sendiri menganjurkan berobat, karena ikhtiar merupakan ajaran Islam. Namun, mencela penyakit merupakan sikap yang tidak sejalan dengan keridaan terhadap ketetapan Allah.

Lebih dari itu, Nabi Muhammad justru mengungkap hikmah besar di balik demam: ia menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa seorang mukmin. Sebagaimana tungku api membersihkan karat yang melekat pada besi, demikian pula sakit membersihkan noda dosa yang melekat pada seorang hamba.

Maka, setiap rasa sakit yang dihadapi dengan sabar sejatinya bukanlah kerugian. Ia adalah proses penyucian yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Bahkan, bukan hanya penghapus dosa, sakit juga menjadi sebab bertambahnya pahala dan diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah.

Kebaikan di Balik Sakit

Banyak hadis sahih menjelaskan bahwa sakit merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah swt. kepada hamba-Nya yang beriman. Rasulullah saw. bersabda:

Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain Rasulullah saw. juga bersabda:

Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, dicatat baginya pahala sebagaimana amal yang biasa ia lakukan ketika sehat dan ketika mukim.” (HR. Sahih al-Bukhari).

Hadis ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah. Ketika seorang mukmin terhalang melakukan ibadah rutin karena sakit, Allah tetap mencatat pahala amal yang biasa ia kerjakan selama sehat. Seolah-olah amalnya tetap mengalir meskipun tubuhnya sedang terbaring lemah.

Di samping hadis-hadis sahih tersebut, terdapat sebuah hikmah yang disebutkan oleh Syekh Muhammad bin Abu Bakar dalam kitab Al-Mawā’iẓ al-‘Uṣfūriyyah halaman 16. Beliau menuturkan bahwa ketika seorang mukmin sakit, Allah mengutus empat malaikat. 

Malaikat pertama bertugas untuk mencabut kekuatan, sehingga orang yang sakit menjadi lemah. Malaikat kedua mencabut indra pengecap, sehingga kelezatan rasa setiap makanan tidak terasa. Malaikat ketiga mencabut cahaya kesegaran wajah, sehingga orang yang sakit akan terlihat pucat. Dan malaikat terakhir bertugas mengambil dosa-dosa, sehingga mereka yang ditimpa sakit menjadi lebih suci. 

Setelahnya, ketika Allah ingin memberikan kesembuhan bagi yang sakit, Ia kembali mengutus para malaikat sebelumnya untuk mengembalikan apa saja yang telah diambil. Kekuatan fisik dan pikirannya kembali. Kelezatan makanan akan kembali dirasakan. Wajah yang pudar dan pucat akan kembali cerah. Tetapi, dosa yang telah diambil/dihapus tidak akan dikembalikan. 

Mungkin itulah sebabnya, ketika kesembuhan akhirnya datang, ada perkara-perkara yang tidak ikut kembali. Dosa-dosa yang telah Allah hapus tidak kembali lagi. Pahala yang telah Allah catat tetap menjadi simpanan di sisi-Nya. Yang kembali hanyalah kesehatan, sedangkan bekas-bekas kebaikan yang ditinggalkan oleh sakit tetap tersimpan sebagai bekal menuju akhirat.

Tidak ada seorang pun yang menginginkan sakit. Kita diperintahkan untuk menjaga kesehatan, berikhtiar mencari pengobatan, dan memohon afiat kepada Allah swt. Namun, apabila sakit telah menjadi ketetapan-Nya, maka janganlah kita memandangnya hanya sebagai musibah.

Boleh jadi, justru pada saat tubuh melemah, Allah sedang menguatkan kedudukan kita di sisi-Nya. Boleh jadi, ketika aktivitas terhenti, dosa-dosa sedang berguguran dan pahala terus bertambah. Maka bersabarlah, berbaik sangkalah kepada Allah, dan terus berharap kepada-Nya. Sebab, ketika kesembuhan tiba, ada perkara yang memang tidak kembali—yakni dosa-dosa yang telah diampuni dan pahala yang telah Allah anugerahkan kepada hamba-Nya yang bersabar.

Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini