Takwa Sebagai Jalan Hidup yang Bersahaja

Kata takwa sudah sangat familiar bagi umat Islam. Hampir selalu disampaikan dalam ceramah-ceramah dan kajian, bahkan nasihat  untuk mengajak pada ketakwaan dijadikan sebagai salah satu rukun pada khutbah Jum’at.

Tapi apakah kita benar-benar sudah menerapkan nilai-nilai takwa dengan tepat? atau masih sering bertanya-tanya akan kesempitan hidup; padahal sudah melakukan seperangkat ibadah yang menjadi komponen ketakwaan?

Mari bersama-sama merenungi QS. Ath-Thalaq: 2

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ

Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya

Wahbah al-Zuhaily dalam Tafsir al-Munir fi al’Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj menerangkan makna ayat ini ialah:

ومن يتق الله فيما أمره به وترك ما نهاه عنه ووقف عند حدودهالتي حدها لعباده, يجعل له من أمره مخرجا أو مخلصا مما وقع يه ويرزقه من وجه لا يحظر بباله ولايكون في حسابه

Barangsiapa bertakwa pada Allah atas apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang Allah larang, menjunjung tinggi batasan-batasan-Nya yang telah digariskan bagi hamba-Nya, niscaya Allah akan berikan padanya jalan keluar atas persoalan yang dihadapinya, memberinya rizki dari arah yang tidak terduga dan tidak terbesit dibenaknya.

Ini menjadi petunjuk bahwa ketakwaan adalah jalan keselamatan yang membuat diri kita bersahaja. Justru sebaliknya, semakin kita jauh dari ketakwaan, maka hidup akan terasa semakin sulit dan sempit. Hati menjadi mudah gusar dan keputusan hidup yang diambil akan sering tersasar.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari Abu Dzar. Rasulullah membacakan QS. Ath-Thalaq: 2 ini kepada Abu Dzar dan beliau bersabda: wahai Abu Dzar, seandainya manusia semuanya mengambil dan mengamalkan ayat ini, niscaya ini akan mencukupi mereka. 

Nah, di antara hal yang perlu diperhatikan adalah: berupaya mengikis tipis-tipis maksiat yang selama ini kita lakukan, sembari terus menginsafi perbuatan buruk dan mengiringinya dengan amal saleh. Sebagai mana Sabda Nabi: Iringilah perbuatan buruk dengan kebaikan, maka kebaikan itu akan menghapus keburukan.

Adapun dalam hadits yang lain, Imam Ahmad, An-Nasa’i dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Tsauban, Rasulullah bersabda:


أنّ العبد ليحرم الرزق بالذنب يصيبه ولا يردّ القدر إلا الدعاء ولايزيد في العمر إلا البرّ

Sesungguhnya seorang hamba benar-benar terhalang rizkinya disebabkan oleh dosa yang diperbuatnya, tidak ada yang bisa menolak qadar selain do’a dan tidak ada yang bisa menambahi umur selain kebajikan.

Selanjutnya, agar ketakwaan ini membawa pada kesahajaan hidup, ada baiknya kita mengambil manfaat dari perkataan Syaikh Mutawalli Sya’rawi:

إذا أخذ الله منك مالم تتوقع ضياعه فسوف يؤتيك ما لم تتوقع تملكه

Jika Allah mengambil darimu yang tak kau sangka kehilangannya, maka Allah akan beri padamu sesuatu yang tak kau sangka akan memilikinya.

Dalam kesempatan lain, Syaikh Mutawalli Sya’rawi juga menyampaikan; bertakwalah engkau pada Allah maka akan ditundukkan segalanya padamu. Jika engkau tidak bertakwa, maka engkau akan dibuat tunduk pada apapun. 

Penulis memahami ini sebagai isyarat bahwa dengan ketakwaan akan Allah jadikan segala hal mudah bagi kita, adapun jika tidak berakwa, kita akan diliputi berbagai rasa takut dan kekhwatiran.

Jadi, teruslah bertakwa pada-Nya sembari terus memperbaiki hati dan amal untuk meraih cinta-Nya. Mata dan logika kita terlalu sempit untuk mengukur kasih dan kuasa-Nya. Jangan dahulukan syahwat dan nafsu manusiawi dalam mengukur segala takdir-Nya yang hadir pada kehidupan kita. Wallahu A’lam

Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini