Tafsir Ayat-Ayat tentang Waktu dan Pergantiannya

Perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia memandang waktu. Hari ini, waktu sering dipahami sebagai komoditas yang dapat diukur, dihemat, diinvestasikan, atau bahkan dibeli melalui berbagai kemudahan teknologi. Namun, di tengah percepatan kehidupan modern, muncul pertanyaan mendasar tentang bagaimana sebenarnya Al-Qur’an memandang waktu? Apakah waktu sekadar rangkaian detik yang bergerak dari masa lalu menuju masa depan, ataukah telah menjadi tanda-tanda kebesaran Allah yang memiliki dimensi spiritual dan moral?

Pertanyaan ini penting karena Al-Qur’an tidak memandang waktu sebagai sesuatu yang netral. Sebaliknya, waktu hadir sebagai salah satu unsur fundamental dalam hubungan manusia dengan Tuhan, alam semesta, dan sejarah. Pemahaman terhadap konsep waktu dalam Al-Qur’an memberikan kerangka untuk memahami perubahan, kemajuan, kemunduran, dan pergantian peradaban.

Mengenal Istilah dahr, dan ‘asr

Dalam tradisi Islam, terdapat beberapa istilah yang berkaitan dengan waktu, di antaranya dahr, dan ‘asr. Meskipun masing-masing memiliki nuansa makna yang berbeda, ketiganya menunjukkan bahwa Al-Qur’an dan hadis memandang waktu sebagai realitas yang sarat makna. 

Salah satu ayat yang paling sering dikaitkan dengan konsep waktu adalah Surah Al-‘Asr. Allah berfirman, “Demi masa (‘asr), sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” Menariknya, Allah membuka surah yang sangat singkat ini dengan sumpah atas waktu. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa sumpah tersebut menunjukkan kedudukan waktu yang sangat agung. Jika manusia mengalami kerugian, penyebab utamanya adalah karena kegagalan memanfaatkan waktu untuk iman, amal saleh, dakwah kebenaran, dan kesabaran.

Di sisi lain, Al-Qur’an juga menggunakan istilah dahr. Dalam Surah Al-Insan ayat 1 disebutkan, “Bukankah telah datang kepada manusia satu waktu dari masa (dahr), sedangkan ketika itu ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” Ayat ini mengingatkan manusia bahwa keberadaannya hanyalah bagian kecil dari rentang waktu yang sangat panjang. Sebelum lahir, manusia tidak ada; setelah mati, ia akan memasuki fase keberadaan yang berbeda. Dengan demikian, konsep dahr dalam Al-Qur’an mengandung kesadaran tentang keterbatasan manusia di tengah keluasan ciptaan Allah.

Pertanyaan penting yang kemudian muncul adalah jika waktu demikian penting dalam Islam, mengapa banyak manusia justru mengabaikannya?

Jawabannya dapat ditemukan dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Hakim menyebutkan, “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara yaitu masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” Seluruh nasihat tersebut bertumpu pada kesadaran bahwa kehidupan manusia berlangsung dalam rentang waktu yang terbatas. Kesempatan yang tidak digunakan pada waktunya mungkin tidak akan pernah kembali.

Karena itu, konsep waktu dalam Al-Qur’an merupakan amanah, tanda kekuasaan Allah, sekaligus arena pertanggungjawaban manusia. Pergantian siang dan malam mengingatkan manusia akan keteraturan ciptaan. Pergantian generasi mengingatkan bahwa tidak ada kejayaan yang abadi. Pergantian zaman mengajarkan bahwa sejarah bergerak sesuai hukum-hukum moral yang ditetapkan Allah.

Di tengah dunia yang semakin cepat bergerak, pesan Al-Qur’an tentang waktu tetap relevan adalah tentang siapa yang memahami makna waktu akan berhasil memahami makna kehidupan itu sendiri.

Ilya Syafa’atun Ni’mah, M.Ag., KUMI., Alumni Bayt Al-Qur’an dan Ustadzah di Cariustadz.id

Tertarik mengundang ustadz Ilya Syafa’atun Ni’mah, M.Ag., KUMI.? Silahkan klik disini