Sejarah kemerdekaan Indonesia sering ditulis sebagai kisah para jenderal, diplomat, dan pemuda bersenjata. Jarang disebut secara proporsional bahwa di balik banyak front pertempuran, terdapat ulama dan santri yang keluar dari surau dan pesantren untuk mengangkat senjata.
Bagi ulama dan santri, perjuangan kemerdekaan merupakan sebagian dari upaya untuk meneguhkan keimanan.
Berbeda dengan sekolah-sekolah formal yang tunduk pada kurikulum kolonial, pesantren memiliki otonomi penuh atas apa yang diajarkan kepada santrinya, termasuk semangat anti-penjajahan yang dibingkai dalam bahasa keagamaan. Pemerintah kolonial menyadari ancaman ini. Ulama besar seperti KH Hasyim Asy’ari dari Pesantren Tebuireng dan KH Wahab Chasbullah dari Pesantren Bahrul Ulum kerap diawasi, dan sejumlah pesantren pernah menjadi sasaran represi karena dicurigai menjadi basis perlawanan.
Skala keterlibatan ini tidak kecil. Pada masa Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, ribuan santri dari pesantren-pesantren di Jawa Timur dimobilisasi untuk mempertahankan Surabaya dari pasukan Sekutu.
Pertempuran 10 November yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan tidak dapat dilepaskan dari fatwa ulama yang mewajibkan jihad fi sabilillah bagi siapa pun yang berada dalam radius tertentu dari garis pertempuran. Diperkirakan puluhan ribu laskar rakyat, sebagian besar berbasis pesantren dan tergabung dalam Hizbullah dan Sabilillah, turut ambil bagian dalam pertempuran itu. Ribuan nyawa melayang dalam pertempuran yang berlangsung berminggu-minggu tersebut.
Perjuangan ulama dalam kemerdekaan Indonesia sesungguhnya telah menjadi perlawanan spiritual dan intelektual yang menyatu secara utuh dengan perjuangan politik. Al-Qur’an sendiri menegaskan legitimasi perlawanan terhadap penindasan: “Dan diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka” (QS Al-Hajj: 39).
Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda, “Barang siapa terbunuh karena mempertahankan hartanya, maka ia mati syahid” (HR Bukhari dan Muslim).
Keduanya ini menjadi salah satu rujukan ulama pesantren dalam memaknai penjajahan sebagai bentuk kezaliman yang wajib dilawan.
Peran NU dan Muhammadiyah
Di balik perjuangan kemerdekaan itu terdapat organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang berperan untuk mengoordinasikan pergerakan ulama secara nasional. NU, yang didirikan KH Hasyim Asy’ari pada 1926, menjadi basis konsolidasi ulama pesantren tradisional se-Jawa dan luar Jawa. Hal ini membuat perlawanan tidak terkonsentrasi hanya di satu front.
Tokoh muda NU, KH Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari juga turut memimpin MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) sebagai federasi organisasi Islam sejak masa kolonial, kemudian duduk sebagai anggota Panitia Sembilan dan BPUPKI/PPKI. Peran KH Wahid Hasyim sangat penting, karena ikut menentukan dalam merumuskan konsep “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai jalan tengah yang bisa diterima seluruh golongan bangsa.
Sementara itu, Muhammadiyah, yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada 1912. Sejak awal abad ke-20, kader-kadernya sudah terlibat dalam pergerakan nasional lintas organisasi, termasuk dalam Sarekat Islam. Pada masa perumusan dasar negara, Ki Bagus Hadikusumo Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah kelima menjadi anggota kunci BPUPKI.
Selain itu, Muhammadiyah juga memiliki Hizbul Wathan yang menanamkan disiplin dan semangat kebangsaan pada generasi mudanya, sejajar fungsinya dengan laskar-laskar berbasis pesantren NU, meski tidak seluruhnya bersifat militer.
Terakhir, dari medan pertempuran Surabaya hingga meja perumusan dasar negara di BPUPKI dan PPKI, jejak ulama dan dua organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini menunjukkan bahwa kemerdekaan merupakan buah dari keyakinan keagamaan yang diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Dengan demikian, mengenang peran ulama, NU, dan Muhammadiyah dalam perjuangan kemerdekaan sama dengan mengajak kita untuk merenungkan kembali bagaimana keberagaman cara pandang, baik tradisionalis maupun modernis, spiritual maupun politis dapat bertemu pada satu titik yang sama yaitu perjuangan Kemerdekaan Indonesia.
Ilya Syafa’atun Ni’mah, M.Ag., KUMI., Alumni Bayt Al-Qur’an dan Ustadzah di Cariustadz.id
Tertarik mengundang ustadz Ilya Syafa’atun Ni’mah, M.Ag., KUMI.? Silahkan klik disini