Kita hidup di zaman ketika hampir semua orang takut tertinggal. Takut tidak ikut bersuara, takut tidak hadir di isu yang sedang ramai, takut tidak terlihat peduli. Media sosial mempercepat semuanya: emosi, simpati, kemarahan, bahkan kebaikan. Dalam situasi seperti ini, ikut arus sering kali terasa seperti kewajiban moral. Padahal, jauh sebelum istilah FOMO (fear of missing out) dikenal, Nabi Muhammad SAW sudah mengingatkan bahwa akan datang suatu masa fitnah, di mana semakin seseorang terlibat, justru semakin besar resikonya.
Nabi Saw bersabda:
سَتَكُونُ فِتَنٌ، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي
“Akan terjadi berbagai fitnah. Orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri; yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan; dan yang berjalan lebih baik daripada yang berlari.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Hadis ini tidak sedang berbicara tentang posisi tubuh, apalagi menganjurkan umat untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan sosial. Ia adalah peringatan tentang derajat keterlibatan di masa kekacauan. Rasulullah menggambarkan bahwa semakin seseorang bergerak cepat, dan semakin ia merasa harus hadir dalam setiap pusaran peristiwa, justru semakin besar potensi celakanya. Dalam situasi seperti ini, keselamatan sering kali tidak lahir dari keberanian tampil, melainkan dari kemampuan menjaga jarak, menahan diri, dan tidak tergesa mengambil peran.
Dorongan untuk selalu FOMO kerap membuat seseorang bereaksi sebelum sempat berpikir jernih. Informasi yang viral cukup datang dari satu potongan video, satu tangkapan layar, atau satu narasi sepihak, lalu segera dipercaya dan disebarkan. Tidak ada jeda untuk bertanya: apa konteksnya? bagaimana versi pihak lain? Dalam pusaran seperti ini, emosi sering mendahului akal, dan keberpihakan lahir sebelum pemahaman. Inilah wajah fitnah yang dimaksud Nabi: bukan sekadar konflik, tetapi situasi di mana ketergesaan kolektif membuat kesalahan terasa wajar.
Karena itu, Rasulullah mengingatkan dengan sangat tegas:
كَفَىٰ بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang disebut berdusta ketika ia menceritakan (menyebarkan) setiap hal yang ia dengar.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa masalahnya bukan hanya pada kebohongan yang disengaja, tetapi juga pada kecerobohan dalam menyampaikan. Di tengah arus informasi yang serba cepat, tidak semua yang dibagikan dengan niat baik akan berujung pada kebaikan.
Ketika FOMO Kebaikan Pun Bisa Keliru
Tidak semua FOMO lahir dari niat buruk. Banyak orang ikut arus justru karena ingin berbuat baik: membantu korban bencana, berdonasi, atau ikut menyuarakan solidaritas. Namun disinilah letak jebakannya. Keinginan untuk cepat membantu seringkali mengalahkan kehati-hatian. Misalnya, donasi dikirim melalui lembaga yang belum jelas rekam jejaknya, penggalangan dana dipercayakan kepada figur populer tanpa verifikasi, atau ajakan kebaikan dibagikan ulang tanpa memastikan akuntabilitasnya. Niatnya mulia, tetapi ketergesaan membuat kebaikan kehilangan arah.
Maka peringatan Nabi SAW tentang menjauhi pusaran fitnah menjadi semakin relevan. Bukan karena membantu itu salah, melainkan karena cara membantu juga bagian dari tanggung jawab moral. Kebaikan yang lahir dari kegaduhan, tanpa jeda dan pemeriksaan, berisiko berubah menjadi penyesalan. Bukan hanya bagi yang memberi, tetapi juga bagi mereka yang seharusnya dibantu.
Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag, Ustadz di Cariustadz.id
Tertarik mengundang Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag? Silakan klik disini