Peran Agama dalam Krisis Keamanan Global

Dunia terasa semakin tak aman di tengah konflik berkepanjangan seperti perang Hamas-Israel, Rusia-Ukraina, dan potensi eskalasi neo-kolonialisme tatkala Trump dengan angkuh mengintervensi Venezuela. Presiden Nicolás Maduro dan istrinya dengan mudah ditangkap dari kediamannya dan dibawa untuk diadili di Amerika Serikat. Peristiwa ini menambah daftar panjang ketidakadilan global, dimana hukum internasional sering dinodai keangkuhan kekuatan besar. 

Beragam peristiwa di atas membawa pertanyaan inti dari tulisan ini, bagaimana nasib keamanan dunia? Kepada siapa kita percaya bila hukum Internasional dan PBB selalu dinodai dengan keangkuhan para kolonialis modern? Pertanyaan selanjutnya, bagaimana peran agama terhadap kejadian-kejadian extraordinary seperti ini? Itulah ironi abad ini yang sedang kita hadapi.

Dalam situasi seperti ini, tatanan global tampak kehilangan pegangan. Hukum internasional yang seharusnya menjadi benteng keadilan justru sering menjadi alat pembenaran bagi yang kuat, sebagai contoh Amerika dan sekutunya. Yang kita lihat sekarang adalah neo-kolonialisme berbalut retorika demokrasi, konflik agama yang dimanfaatkan aktor politik, dan perang proxy yang tak kunjung usai. Semua ini menunjukkan betapa rapuhnya tatanan global. 

Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah agama yang selama ini menjadi inspirasi moral bagi umat manusia justru absen atau malah menjadi bahan bakar api kebencian? Atau sebaliknya, apakah agama punya peran transformatif yang bisa digali lebih dalam?

Hemat penulis, krisis keamanan global bukan sekedar urusan senjata dan diplomasi, tetapi juga hati nurani yang kolektif. Di saat kekuasaan sekuler gagal, agama hadir sebagai kompas etis yang abadi.

Cukup banyak yang berasumsi bahwa agama adalah akar konflik—lihat saja label “perang agama” terhadap Hamas-Israel. Asumsi ini lemah secara normatif dan empiris. Agama tak pernah mengajarkan kekerasan. Yang bermasalah adalah penafsiran agama yang dipolitisasi. Rasulullah melalui riwayat Muslim jauh hari berpesan, “Apabila dua muslim berhadap-hadapan dengan pedangnya, maka yang membunuh dan yang dibunuh di neraka” (Muttafaq Alaih). Allah juga berfirman: 

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا ۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ 

Siapa yang membunuh seseorang bukan karena (orang yang dibunuh itu) telah membunuh orang lain atau karena telah berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia.

Hadist dan ayat di atas bukan sekedar teori kosong, namun bisa menjadi pijakan bagi para pemimpin Muslim dunia. 

Terdapat juga asumsi bahwa agama sudah tidak relate dengan era modern. Benarkah? Surat al-Hujurat: 13 menyatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” Ayat ini menolak superioritas rasional atau nasional, dan justru menekankan solidaritas kemanusiaan. Saat Trump menginvasi Venezuela, agama bisa menjadi suara kemanusiaan yang menentang neo-kolonialisme. 

Samuel Huntington dalam karya klasiknya yang populer, Clash of Civilizations (1996), pernah memprediksi akan adanya konflik pasca-Perang Dingin antar-peradaban agama. Nyatanya, setelah Perang Dingin yang terjadi justru intra peradaban (misalnya sesama Muslim di Suriah/Yaman) daripada konflik lintas peradaban seperti prediksi Huntington. Beberapa literatur kontemporer menilai bahwa teori clash of civilizations reduksionis, bias, dan lemah secara empiris, meski berpengaruh besar secara politik. Konflik modern lebih sering disebabkan oleh kepentingan negara, kekuasaan, dan struktur multipolar daripada garis patahan “peradaban” yang kaku.

Peran agama dalam krisis global sebenarnya sudah cukup jelas, dalam arti ia tidak bisa menutup mata ketika terjadi krisis. Sebaliknya, ia berfungsi mengetuk dan membuka hati bagi siapa saja yang mau menjadi corong kebenaran. Saat hukum internasional tak berdaya, agama selalu menawarkan etika. 

Agama bukanlah sesuatu yang selalu abstrak, ia mempunyai rekam jejak transformatif. Paus Fransiskus misalnya, melakukan mediasi Rusia-Ukraina (2022) melalui dialog dengan Patriark Kirill, serta tandatangan Dokumen Persaudaraan Manusia dengan Grand Imam Al-Azhar Ahmed el-Tayeb—deklarasi global tolak ekstrimisme dan dorong harmoni. Secara historis, Piagam Madinah (622 M) yang diprakarsai Nabi Muhammad selalu menjadi model multikulturaslisme pertama yang mampu menyatukan Muslima, Yahudi, dan Kristen melawan konflik suku. Tinggal bagaimana ia dikontekskan dengan era sekarang.

Krisis keamanan global butuh lebih dari sekedar senjata. Ia butuh etika agama sebagai kompas. Dan pesan-pesan etika ini tidak akan pernah sampai ke telinga penguasa bila mereka tidak ada gerakan bersama dari para pemimpin dunia untuk menolaknya. Janganlah lagi kita ditarik ke masa kelam era kolonial.

Zaimul Asroor. M.A., Dosen IAI Khozinatul Ulum Blora dan Ustadz di Cariustadz.id

Tertarik mengundang ustadz Zaimul Asroor. M.A.? Silahkan klik disini