Nabi Muhammad SAW Senantiasa Muroja’ah Hafalan Al-Qur’an

Muroja’ah bukanlah hal yang asing bagi para pegiat Al-Qur’an. Khususnya, bagi mereka yang sudah banyak menempa diri pada dunia tahfidz al-Qur’an. Layaknya seperti nutrisi wajib pada tubuh, Muroja’ah adalah keharusan dan kewajiban bagi setiap penghafal al-Qur’an. Sebab tanpa mengulang-ulang hafalan yang sudah di dapat, tidak ada jaminan sama sekali bahwa hafalan itu akan terus melekat.

Sebagaimana dalam hadis yang disampaikan oleh Abu Musa al-Asy’ari RA dari Nabi Muhammad SAW bersabda:

تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا

“Jagalah (ulangilah dan peliharalah) Al-Qur’an ini. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh Al-Qur’an lebih cepat lepas daripada unta dari ikatannya.” (Muttafaq ‘Alaih – Sahih Muslim No. 791)

Pandangan Ilmiah Terhadap Muroja’ah

Kebenaran praktis dari hadis ini juga ditunjang dengan penelitian ilmiah dalam Multi-Store Model yang dipopulerkan oleh Atkinson & Shiffrin bahwa dalam proses penanaman long-term memory, ia membutuhkan proses pengulangan yang dominan. Proses ini diawali dengan sensory memory di mana setiap kita secara singkat akan mengingat sesuatu yang kita lihat, dengar atau rasa. Namun seiring aktivitas yang berjalan, hal-hal yang tidak sering kita temukan kembali akan cepat terlupa.

Ingatan sensorik ini akan menjadi ingatan jangka pendek atau short-term memory jika ia sudah beberapa kali dilalui dan dilakukan. Namun jika dalam waktu mendatang kita disibukkan dengan hal lain dalam waktu yang panjang, ia akan tergantikan dengan memori baru yang kita bentuk dengan rutinitas baru. Sehingga long-term memory akan tercipta jika kita terus-menerus mengulang apa yang telah kita hafalkan. Demikianlah rotasi proses memperkuat hafalan melalui muroja’ah. Lantas kenapa Nabi SAW menyampaikan dengan “Jagalah kuat-kuat”? Sebab, pada realitanya kita senantiasa diselingi dengan berbagai kesibukan yang berpotensi meluputkan perhatian kita terhadap hafalan al-Qur’an.

Al-Qiyamah: 16; Potret Nabi Muhammad SAW Senantiasa Muroja’ah

لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ

Jangan engkau (Nabi Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak tergesa-gesa (menguasai)-nya.

Berkaitan dengan ayat ini, kami merujuk pada penafsiran Ibnu Jarir ath-Thabari yang menjelaskan:

بل السببُ الذي من أجله قيل له ذلك؛ أنه كان يُكثِرُ تلاوةَ القرآن؛ مخافة نسيانه

Bahkan sebab mengapa hal itu diperintahkan kepada beliau adalah karena beliau banyak membaca Al-Qur’an karena khawatir melupakannya.

Adapun dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas mengenai ayat ini, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW:

كان لا يفتر من القرآن؛ مخافة أن ينساه

“Beliau tidak pernah berhenti (terus-menerus membaca) Al-Qur’an karena khawatir akan melupakannya.”

Sehingga, saat Malaikat Jibril AS membacakan wahyu pada Nabi Muhammad SAW, dan lisannya tidak berhenti bergerak; ini disebabkan Nabi SAW berupaya untuk terus menjaga dan membaca ayat-ayat yang sudah terlebih dahulu turun pada beliau. Ini menunjukkan kecintaan sekaligus komitmen kuat terhadap Al-Qur’an. Terlebih Nabi SAW sendiri berpesan bahwa hafalan adalah sesuatu yang sangat-amat mudah lepas dari genggaman.

Semoga, kita semua termasuk dalam orang-orang yang senantiasa Allah SWT anugerahkan rezeki untuk membaca Al-Qur’an baik di siang ataupun malam hari. Sebagaimana terbesit dalam do’a: وارزقنا تلاوته. Wallahu A’lam.

Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini