Mengenal Para Penghafal Al-Qur’an Pada Zaman Nabi Muhammad SAW

Adakah sesekali muncul dalam benak kita; bagaimana ya, cara Al-Qur’an bisa terjaga sampai hari ini? Sehingga, kita yang hidup jauh dari masa Nabi Muhammad SAW turut bisa mendapatkan Al-Qur’an secara utuh tanpa adanya pengikisan makna ataupun berkurangnya catatan-catatan tulisan?

Siapakah yang berperan besar dalam hal ini? Setidaknya ini bisa menjadi penguat atas firman Allah SWT dalam QS. Al-Hijr: 9

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ  

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya

Muhammad Quraish Shihab menerangkan bahwa pemilihan kata “kami” dalam ayat ini karena adanya berbagai keterlibatan dalam menjaga kemurnian Al-Qur’an. Peran Malaikat Jibril AS sebagai pembawa wahyu dan juga peran kaum muslim yang turut menjaganya dengan menghafal, mencatat, membukukan dan berbagai peran lainnya.

Siapa Saja Penghafal Al-Qur’an Pada Zaman Nabi Muhammad SAW?

Mari kita tengok satu hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin ‘Amr al-‘Ash:

رَوَى الْبُخَارِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ: “مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَسَالِمٍ وَمُعَاذٍ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ “،أَيْ تَعَلَّمُوا مِنْهُمْ

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, ia berkata: Aku mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Ambillah (pelajarilah) Al-Qur’an dari empat orang, yaitu: Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qil, Mu’adz bin Jabal, dan Ubay bin Ka’b.” Maksud sabda beliau adalah: pelajarilah Al-Qur’an dari mereka.

Abu Bakar al-Baqilani memberikan komentar bahwa Hadis tersebut tidak berarti bahwa penghafal Al-Qur’an pada masa Nabi hanya berjumlah empat orang. Keempatnya disebut karena memiliki keutamaan khusus dibandingkan sahabat lainnya.

Selain dari empat sahabat Nabi SAW tadi, sahabat lain yang juga masyhur sebagai penghafal Al-Qur’an adalah ‘Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas’ud dan Abu Musa Al-Asy’ari. Bahkan Jalaluddin As-Suyuthi juga memasukkan Abu Bakar, Umar dan Utsman di dalamnya.

Namun, penjelasan menarik ditemukan dalam pemaparan Manna’ Khalil al-Qaththan:

وذكر هؤلاء الحفاظ السبعة. أو الثمانية، لا يعني الحصر، فإن النصوص الواردة في كتب السير والسُّنن تدل على أن الصحابة كانوا يتنافسون في حفظ القرآن، ويُحَفِّظونه أزواجهم وأولادهم. ويقرءون به في صلواتهم بجوف الليل، حتى يُسمع لهم دوي كدوي النحل، وكان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يمر على بيوت الأنصار، ويستمع إلى ندى أصواتهم بالقراءة في بيوتهم

Sebab, berbagai riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab sirah dan sunan menunjukkan bahwa para sahabat dahulu berlomba-lomba dalam menghafal Al-Qur’an. Mereka juga mengajarkannya untuk dihafal oleh pasangan dan anak-anak mereka.

Mereka membaca Al-Qur’an dalam salat-salat malam, hingga dari bacaan mereka terdengar suara bergemuruh seperti dengungan lebah. Rasulullah pun pernah melewati rumah-rumah kaum Anshar dan mendengarkan merdunya suara mereka ketika membaca Al-Qur’an di rumah masing-masing.

Sampai pada perjalanannya, umat muslim mengambil pelajaran dari perang bir ma’unah pada zaman Nabi SAW dan perang Yamamah pada masa kepemimpinan Abu Bakar yang masing-masing menggugurkan 70 penghafal Al-Qur’an, proses menjaga kemurnian Al-Qur’an bukan hanya dilakukan melalui hafalan, tetapi juga sudah mulai merambah pada pengumpulan mushaf dan pembukuan. Hingga, Al-Qur’an bisa kita terima sampai hari ini. Wallahu A’lam.

Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Pendiri Antassalam Institute dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini