Sejarah manusia memperlihatkan satu ironi yang terus berulang: kebenaran sering kali menjadi paling keras justru ketika ia merasa terancam. Bukan karena ia lemah, melainkan karena manusia yang merasa memilikinya tidak siap menghadapi perbedaan.
Dalam banyak peristiwa sejarah—lintas zaman, lintas agama, lintas kebudayaan—yang memicu konflik bukanlah kebohongan terang-terangan, melainkan pertanyaan. Pertanyaan menggoyahkan kepastian, memaksa nalar bekerja, dan menuntut kerendahan hati untuk mengakui bahwa pemahaman manusia selalu terbatas. Namun, tidak semua orang siap hidup dalam ketidakpastian semacam itu. Maka, jalan pintas pun dipilih: memberi label.
Label itu berubah-ubah sesuai konteks zaman: sesat, bidah, kafir, penista, perusak iman, atau ancaman moral. Di luar agama, ia hadir sebagai subversif, atheis, atau musuh tatanan. Mekanismenya tetap sama: menyederhanakan manusia menjadi satu kata.
Pertanyaan yang Dianggap Berbahaya
Socrates dihukum mati bukan karena mengangkat senjata, melainkan karena bertanya—pertanyaan sederhana dan sangat mendasar. Galileo diadili bukan karena membenci iman, melainkan karena mengarahkan teleskop ke langit. Al-Hallaj dieksekusi bukan karena meruntuhkan syariat, melainkan karena berbicara dalam bahasa cinta mistik yang tak mudah dipahami hukum.
Dalam setiap kasus, jarak antara ide dan hukuman selalu diisi oleh satu emosi yang sama: ketakutan. Takut umat bingung, takut tatanan runtuh, takut iman retak, dan takut otoritas kehilangan pijakan. Ketakutan ini sering dibungkus dengan niat yang terdengar mulia: menjaga kemurnian ajaran, melindungi masyarakat, menyelamatkan agama.
Justru karena dibungkus niat baik, ketakutan itu sulit disentuh kritik. Sebab, siapa yang berani menentang sesuatu yang mengatasnamakan kebaikan tertinggi?
Ketika Manusia Menjadi Perpanjangan Tuhan
Di titik inilah muncul kecenderungan manusia yang jarang disadari: perlahan merasa dirinya bukan sekadar hamba, melainkan perpanjangan tangan Tuhan. Pada mulanya, iman mengajarkan kerendahan hati—bahwa kebenaran mutlak milik Tuhan, sementara manusia hanya berusaha mendekatinya. Namun dalam praktik sosial, batas ini sering kabur.
Ketika sebuah tafsir diyakini sebagai satu-satunya yang sah dan disahkan oleh otoritas moral atau keagamaan, keyakinan itu berubah menjadi identitas. Bukan lagi “ini hasil pikiranku”, melainkan “inilah kehendak Tuhan”. Perbedaan pun bergeser makna: bukan variasi pencarian, melainkan pembangkangan terhadap Yang Ilahi.
Di sini, sikap “membela agama” kerap berubah arah. Yang dibela bukan lagi nilai-nilai ketuhanan seperti keadilan, kebijaksanaan, dan kasih, melainkan rasa kepemilikan atas Tuhan. Seolah-olah Tuhan rapuh dan membutuhkan pembelaan manusia—dan pembelaan itu harus segera, tegas, bahkan jika perlu keras.
Iman, Amarah, dan Massa
Padahal, hampir semua tradisi keagamaan menggambarkan Tuhan sebagai Yang Mahakuat dan tidak terguncang oleh kritik atau pertanyaan. Yang rapuh sesungguhnya adalah pemahaman manusia tentang Tuhan. Namun mengakui keterbatasan diri tidak selalu memberi rasa nyaman.
Membela Tuhan terasa lebih mulia, lebih heroik, dan—yang paling berbahaya—memberi ilusi kebebasan dari tanggung jawab moral pribadi. Ketika tindakan dilakukan atas nama Tuhan, pelakunya sering merasa tidak sedang menyakiti manusia, melainkan sedang menjalankan tugas suci.
Sejarah mencatat bahwa banyak tragedi lahir bukan dari kebencian terang-terangan, melainkan dari keyakinan tulus bahwa seseorang sedang berdiri di pihak Tuhan. Pada titik ini, iman sering kali bertemu massa, dan massa jarang memiliki ketelitian nurani.
Rehabilitasi yang Selalu Terlambat
Masalahnya bukan pada keberadaan fatwa, hukum, atau otoritas moral itu sendiri. Dalam tradisi mana pun, semuanya lahir dari niat menjaga kebaikan. Persoalan muncul ketika panduan berubah menjadi vonis sosial, ketika nasihat berubah menjadi palu, dan ketika kesabaran digantikan oleh amarah kolektif.
Sejarah juga memperlihatkan satu kebiasaan pahit: rehabilitasi hampir selalu datang terlambat. Galileo dipulihkan berabad-abad kemudian. Karya Ibn Rushd dipelajari kembali setelah dibakar. Nama-nama yang dahulu dicela sering dipuji setelah tak lagi bisa membela diri. Kebijaksanaan sering baru hadir setelah luka mengering.
Menjaga Iman, Menjaga Manusia
Iman yang kuat dan percaya diri tidak tergesa-gesa. Ia tidak panik menghadapi perbedaan. Ia mampu membedakan antara ancaman dan ketidaknyamanan, antara penyimpangan dan keberagaman. Sebaliknya, iman yang cemas cenderung berisik—ia membutuhkan kepastian cepat, garis tegas, dan musuh yang jelas.
Tulisan ini tidak bermaksud mencurigai agama atau tradisi keilmuan apa pun. Justru sebaliknya, ia mengajak menjaga martabat agama dengan menjaga martabat manusia. Sebab setiap kali sejarah mencatat seorang pemikir dibungkam atas nama kebenaran, pertanyaan yang tersisa bukan hanya tentang mereka, melainkan tentang kita:
Apakah kita sedang menjaga iman, atau sekadar menjaga rasa aman kita sendiri?
Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini