Makna Manusia sebagai Khalifah untuk Kelestarian Bumi

Al-Raghib al-Ashfihani yang merupakan salah satu ulama kenamaan dalam bidang al-Qur’an di era pertengahan menyampaikan bahwa ada tiga alasan utama di balik penciptaan manusia. Alasan yang pertama ialah sebagai hamba Tuhan yang diberikan tanggungjawab untuk menjalankan aktivitas peribadatan kepada Allah SWT. sebagaimana dikatakan dalam al-Qur’an pada Q.S. al-Dzariyat [51]: 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ 

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

Alasan yang kedua, manusia diciptakan dengan membawa mandat sebagai khalīfah fi al-ardh yang dimaknai sebagai perwakilan Tuhan di muka bumi. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 30:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ 

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” 

Alasan terakhir dan masih berhubungan dengan alasan sebelumnya, penciptaan manusia memiliki visi sebagai khalifah yang mampu mengelola dan memakmurkan bumi. Pada alasan yang terakhir ini, al-Raghib al-Ashfihani mengutip ayat yang berbicara perihal perintah Allah SWT. kepada Nabi Shalih as. dalam Q.S. Hud [11]: 61:

وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا ۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗهُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ 

Kepada (kaum) Samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi Maha Memperkenankan (doa hamba-Nya).

Ketiga alasan di balik penciptaan manusia ini saling berkaitan dan melengkapi satu sama lainnya. Maknanya, manusia secara filosofis memiliki misi untuk mampu menjalankan kehidupannya secara berimbang, dengan selalu menautkan orientasi ukhrawi dalam segala aspek kehidupan duniawi yang dilakukannya. Maka, ketika manusia menjalankan mandatnya sebagai khalifah, pada saat yang bersamaan ia juga sedang mengaktualisasikan dirinya untuk beribadah kepada Tuhan. Hal yang sama juga terjadi ketika manusia mampu mengelola bumi dan memakmurkannya, maka sejatinya ia sedang melaksanakan amanahnya sebagai khalifah dan juga melakukan peribadahan kepada Tuhan lewat amanah yang ia laksanakan.

Dalam konteks pemaknaan atas apa yang dimaksud dengan “memakmurkan bumi”, uraian (alm.) Yusuf al-Qaradhawi yang merupakan salah satu ulama kontemporer rujukan dunia menjadi sangat relevan. Baginya, pada perintah memakmurkan bumi terdapat dua aspek yang harus selalu ada yaitu memperlakukan alam dengan baik dan mencegahnya dari kerusakan. Istilah ekologisnya, melestarikan dan mengonservasi bumi. 

Maka dari itu, ketika manusia tidak memiliki daya dan upaya atau bahkan berpangku tangan dalam melestarikan dan mengonservasi bumi sebab hanya memikirkan kehidupan ukhrawinya saja, sejatinya ia telah gagal dalam menjalankan salah satu tujuan dari penciptaannya. Lebih parah lagi, ketika manusia justru mengeksploitasi bumi secara destruktif hanya demi kepentingan duniawinya saja tanpa memikirkan konsekuensi akhirat, maka sejatinya ia telah mendustakan dan mendurhakai Tuhan (kufur/ kafir) sebab secara sengaja melanggar aturan Ilahi yang telah dimandatkan kepadanya.

Oleh sebab itu, Allah SWT. mengingatkan kepada manusia untuk menjalani kehidupannya di muka bumi secara seimbang dengan menyeimbangkan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi serta berbuat ihsān dan jangan sampai berbuat fasād di muka bumi. Sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. al-Qashash [28]: 77:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ 

Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuatbaiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Kata ihsān dalam ayat ini mengindikasikan bahwa manusia harus bisa meniru bentuk ihsān yang telah Tuhan percontohkan kepada manusia dan dirasakan di setiap detik kehidupannya. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah riwayat yang masyhur bahwa manusia seyogyanya mampu meneladani Allah SWT. melalui asmā’-Nya yang Agung (asmā’ul husnā). Takhallaqū bi akhlāqillāh (berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah SWT.). Lantas, apabila manusia justru bertindak fasād atau berperilaku merusak serta destruktif terhadap bumi yang telah diciptakan Allah SWT. dalam keadaan yang begitu baik bagi manusia sebagai bentuk ihsān-Nya, maka sejatinya manusia telah membuka pintu bagi kehancurannya sendiri.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT. dalam Q.S. al-Rum [30]: 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ 

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Beruntung bahwa Allah SWT. melalui ayat tersebut mengatakan jika Dia hanya akan membuat manusia merasakan sebagian dari apa yang mereka lakukan dari perbuatan fasād itu dan tidak sepenuhnya. Tentu tidak terbayangkan jika Allah SWT. berkehendak membalas tindakan manusia sesuai apa yang dikerjakan tanpa pengurangan. Begitulah Allah SWT. mendefinisikan diri-Nya sebagai Dzat yang kasih sayangnya yang tidak mampu diukur dengan kalkulator manusia. Wa raẖmatī wasi‘at kulla syaī’ (rahmat-Ku meliputi segala sesuatu). Wa in ta‘uddū ni’matallāh lā tuẖshūhā (jika kalian ingin menghitung rahmat-Nya, maka niscaya kalian tidak akan bisa).

Alif Jabal Kurdi, S.Ag., M.A., Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Alif Jabal Kurdi, S.Ag., M.A.? Silakan klik disini