Kapan Nasihat Sabar Menjadi Toksik?

Di antara sekian banyak nilai yang diajarkan agama, sabar mungkin termasuk yang paling universal. Hampir semua orang sepakat bahwa kesabaran adalah kebajikan. Ia menjadi penopang manusia saat menghadapi kesulitan, sekaligus menjadi penanda kedewasaan dalam menyikapi kehidupan.

Karena itu, para ulama sering menggambarkan kehidupan seorang mukmin berporos pada dua sikap utama: syukur dan sabar. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur. Ketika menghadapi ujian, ia bersabar. Sebagaimana dawuh Nabi saw.:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Dari hadis ini, hidup tampak sesederhana itu. Ketika mendapatkan karunia, jangan sombong. Bersyukurlah. Tetap rendah hati. Ketika tertimpa kesulitan, jangan putus asa. Bersabarlah. Lalu carilah hikmah, pelajaran, dan jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi.

Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sabar merupakan salah satu nilai yang paling luhur dalam tradisi Islam. Sulit menemukan ulama yang “berdebat” soal kesabaran. Konsensusnya nyaris bulat: sabar adalah kebajikan.

Distorsi Fungsi Sabar 

Masalahnya, sebuah nilai yang luhur sekalipun dapat mengalami distorsi fungsi ketika diterapkan secara sembrono. 

Pada mulanya, sabar berfungsi menguatkan manusia ketika menghadapi penderitaan. Namun dalam praktik sosial, tidak jarang sabar berubah menjadi nasihat yang diberikan terlalu cepat, terlalu mudah, dan tanpa usaha memahami akar persoalan yang sedang dihadapi seseorang.

Dalam bentuk seperti ini, nasihat sabar tidak lagi berfungsi sebagai penguat. Ia berubah menjadi penutup percakapan.

Orang yang mengeluhkan ketidakadilan diminta sabar. Orang yang menjadi korban kesewenang-wenangan diminta sabar. Orang yang sedang mempertanyakan sistem/manajemen yang bermasalah diminta sabar. Seolah-olah masalah selesai hanya karena kata itu diucapkan.

Jadi kritiknya bukan pada sabar itu sendiri, melainkan pada cara kita menempatkan dan menasihatkannya.

Kritik Agama Sebagai “Pereda Nyeri”

Ada seorang sosialis bernama Karl Marx yang terkenal dengan ungkapannya, “religion is the opium of the people” (agama adalah “pereda nyeri” bagi masyarakat). Ia mengklaim bahwa agama kadang digunakan untuk membuat orang terlalu cepat menerima penderitaannya, sehingga kehilangan dorongan untuk bertanya, mengkritik, atau mengubah keadaan.

Tentu kritik ini tidak selalu tepat jika diarahkan kepada agama secara keseluruhan. Namun, ada kalanya nasihat sabar memang digunakan dengan cara yang mirip dengan apa yang dikritik Marx. Seorang pekerja mengeluhkan upah yang tidak layak, lalu diminta sabar. Seorang istri diperlakukan tidak semestinya, lalu diminta sabar. Seorang mahasiswa mempertanyakan ketidakadilan, lalu diminta sabar. Dalam kasus-kasus seperti ini, sabar berubah menjadi legitimasi bagi keadaan yang sebenarnya perlu dikoreksi.

Bentuk kesabaran seperti inilah yang layak disebut “sabar yang toksik”. Alih-alih membebaskan manusia dari penderitaan, ia justru membuat manusia terbiasa hidup di dalamnya.

Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag, Ustadz di Cariustadz.id

Tertarik mengundang Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag? Silakan klik disini