Insecure merupakan kondisi psikologis ketika seseorang merasa tidak percaya diri, meragukan kemampuan dirinya, atau merasa memiliki kekurangan dibandingkan orang lain. Fenomena ini semakin banyak ditemukan di era digital karena individu terus-menerus terpapar pada berbagai standar kecantikan, kesuksesan, dan pencapaian yang ditampilkan melalui media sosial.
Salah satu bentuk insecurity yang sering muncul adalah body image insecurity, yaitu ketidakpuasan terhadap penampilan fisik. Selain itu, insecurity juga dapat memengaruhi self-esteem atau penghargaan terhadap diri sendiri sehingga individu cenderung memandang dirinya secara negatif. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menimbulkan kecemasan, rendah diri, bahkan menghambat seseorang dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Menurut Al-Qur’an, manusia memiliki nilai dan kemuliaan yang telah ditetapkan oleh Allah. Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang terbaik sehingga tidak seharusnya memandang dirinya sebagai makhluk yang tidak berharga. Salah satu ayat yang menjelaskan hal tersebut adalah QS. At-Tin [95]: 4.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ
Terjemah:
“4. Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Makna QS. At-Tin [95]: 4 dan Tafsirnya
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna dibandingkan makhluk lainnya, baik dari segi fisik maupun potensi yang dimilikinya. Manusia diberikan akal, kemampuan berpikir, dan berbagai kelebihan yang menjadi bukti kemuliaannya (tafsir+ibnu+katsir [Jilid 8]: 501).
Imam Al-Qurṭhubi menjelaskan bahwa frasa ahsani taqwim menunjukkan kesempurnaan penciptaan manusia, baik dalam bentuk tubuh maupun kemampuan yang diberikan Allah. Kesempurnaan tersebut merupakan bentuk kemuliaan yang membedakan manusia dari makhluk lainnya (tafsir-qurthubi [Jilid 20]: 531).
Sementara itu, Prof. Wahbah az-Zuḥaili dalam Tafsir Al-Munir menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan sebaik-baik rupa dan bentuk, perwatakan yang seimbang, anggota tubuh yang sesuai, susunan yang bagus, makan dengan tangannya, memiliki ilmu, dapat berpikir, berbicara, merenung dan memetik hikmah kehidupan (tafsir-al-munir- [Jilid 15]: 589).
Potensi terbaik ini menjadikan manusia mampu menjalankan tugas sebagai hamba dan khalifah di bumi. Oleh karena itu, manusia tidak seharusnya merendahkan dirinya sendiri atau merasa tidak bernilai. Melalui ayat ini, Al-Qur’an memberikan pesan bahwa setiap manusia memiliki nilai dan martabat yang telah ditetapkan oleh Allah sejak awal penciptaannya.
Telaah Psikologis tentang Insecurity dan Self-Esteem
Insecurity sering muncul akibat kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain (social comparison). Seseorang merasa kurang menarik, kurang sukses, atau kurang berharga karena melihat kelebihan yang dimiliki orang lain. Media sosial semakin memperkuat kondisi ini melalui berbagai konten yang menampilkan standar kehidupan yang seringkali tidak realistis.
Fenomena tersebut dapat memengaruhi self-esteem atau penghargaan terhadap diri sendiri. Individu yang memiliki self-esteem rendah cenderung lebih mudah merasa gagal, tidak percaya diri, dan sulit menghargai potensi yang dimilikinya. Akibatnya, mereka lebih fokus pada kekurangan daripada kelebihan yang sebenarnya dimiliki.
At-Tin [95]: 4 memberikan perspektif yang berbeda dengan cara pandang tersebut. Ayat ini mengajarkan bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh standar sosial, penampilan fisik, atau pengakuan orang lain, melainkan oleh kemuliaan yang telah Allah berikan sejak proses penciptaannya. Kesadaran bahwa manusia diciptakan dalam ahsani taqwim dapat membantu individu membangun penghargaan diri yang lebih sehat.
Selain itu, ayat ini juga memberikan landasan bagi penerimaan diri (self acceptance). Menerima diri bukan berarti menolak perbaikan, tetapi menyadari bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan yang menjadi bagian dari proses kehidupannya. Dengan demikian, seseorang dapat mengembangkan dirinya tanpa harus terjebak dalam rasa rendah diri atau kebencian terhadap diri sendiri.
Penutup
Fenomena insecurity menunjukkan bahwa banyak orang masih menilai dirinya berdasarkan standar sosial yang berubah-ubah. Melalui QS. At-Tin [94]: 4, Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang terbaik dan memiliki martabat yang mulia di hadapan Allah. Kesadaran ini dapat menjadi dasar bagi tumbuhnya self-esteem dan penerimaan diri yang sehat, sehingga individu mampu mengembangkan potensinya tanpa terjebak dalam rasa rendah diri dan perbandingan sosial yang berlebihan. Wallahu A’lam.
Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini