Setiap orang pasti pernah merasa bahwa ide-ide terbaik justru datang bukan saat sibuk berpikir, tapi ketika sedang santai—seperti saat duduk merenung, berjalan pelan, atau menjelang tidur. Fenomena itu bukan kebetulan. Dalam dunia psikologi modern, keadaan tersebut dikenal dengan istilah “The Serenity Effect” — efek ketenangan yang membuat otak bekerja lebih kreatif.
The serenity effect tidaklah diakui sebagai sebuah istilah teknis dalam psikologi. Sebaliknya, serenity (ketenangan/sakinah) adalah sebuah kondisi mental dan emosional seseorang. Secara sederhana, ia dapat dimaknai sebagai keadaan damai batin yang stabil dan bertahan lama, bebas dari kegelisahan, kekacauan, stres, dan kecemasan.
Sakinah: Tenang Bukan Berarti Diam
Kita hidup di era yang memuja kesibukan. Semakin sibuk, semakin bangga. Padahal, kesibukan yang berlebihan seringkali membunuh ruang refleksi. Dalam Islam, justru ketenangan batinlah yang membuka jalan menuju kejernihan pikiran.
Al-Qur’an menyebut ketenangan sejati dengan istilah sakiinah — kedamaian batin yang diturunkan Allah ke dalam hati orang beriman. Dalam surah al-Fath ayat 4 Dia berfirman:
“Dialah yang menurunkan sakiinah ke dalam hati orang-orang mukmin agar keimanan mereka bertambah di atas keimanan yang telah ada.”
Sakinah adalah keteguhan hati, rasa aman, dan keyakinan yang menenteramkan jiwa. Artinya, sakinah bukan berarti tidak bergerak, tapi bergerak dengan hati yang stabil. Dalam konteks modern, ini adalah keadaan mental yang ideal untuk berpikir kreatif: tenang, tapi tetap hidup.
Charlie Huntington, seorang psikolog, memberikan penjelasan bahwa ketenangan umumnya muncul setelah adanya rasa ketakutan atau kekacauan. Mereka yang merasakan ketenangan dalam hati biasanya merasakan kebangkitan spiritual. Bagi Huntington, mereka menyadari bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang mengendalikan hidup mereka.
Mengutip dari hellosehat.com, saat sedang santai (bengong), jaringan otak yang digunakan adalah default-mode. Di mode ini pikiran seakan berjalan sendiri. Namun demikian, ia memiliki beberapa manfaat, seperti meningkatkan produktivitas, memicu kreativitas, hingga menambah daya ingat. Karenanya, pada mode ini sering kali muncul solusi atas masalah yang belum terselesaikan ketika otak dipaksa bekerja keras.
Dalam Islam, ketenangan diri merupakan salah satu laku ritual yang penting. Salah satu cara untuk mencapai ketenangan pikiran dan jiwa adalah dengan zikir.
Dzikir, Jalan Sunyi yang Menghidupkan Pikiran
Islam sangat menekankan aspek spiritual dalam menjalani hidup. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa salah satu ajaran Islam yang penting dalam hidup seorang muslim adalah zikir: mengingat Dia yang telah menurunkan rasa damai dalam jiwa.
Hal ini juga telah ditegaskan melalui firman-Nya dalam surah al-Ra’d ayat 28:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”
Zikir yang dilakukan dengan penuh kesadaran memberi efek serupa meditasi dalam pandangan sains modern. Detak jantung melambat, hormon stres menurun, dan pikiran menjadi fokus. Sebuah studi oleh Nuraini & Zainuddin (2022) berjudul Dzikir sebagai Teknik Relaksasi: Perspektif Psikologi Kognitif dan Spiritualitas Sufi menyimpulkan bahwa zikir mampu menurunkan kecemasan dan memperkuat kontrol atensi.
Artinya, zikir tidak hanya menenangkan jiwa, tapi juga menajamkan cara berpikir. Dalam suasana hati yang tenang, otak menjadi lebih terbuka untuk melihat hubungan baru antara ide-ide lama. Itulah sebabnya, banyak ulama besar gemar menyepi untuk merenung sebelum melahirkan karya besar.
Rasulullah Saw sendiri memberi teladan yang sangat indah. Sebelum wahyu pertama turun, beliau memilih berdiam di Gua Hira, menatap langit dan merenungkan ciptaan Allah. Dalam kesunyian itulah, lahir inspirasi terbesar dalam sejarah manusia — wahyu pertama yang menggerakkan peradaban.
Ketenangan, Kreativitas, dan Amanah
Bagi seorang Muslim, kreativitas bukan sekadar kemampuan menghasilkan sesuatu yang baru. Kreativitas adalah amanah — bentuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Allah memberi akal dan ilham agar manusia berkreasi untuk kemaslahatan, bukan kesia-siaan. Tetapi amanah ini hanya bisa dijalankan oleh hati yang tenang dan pikiran yang jernih.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis bahwa hati yang tenang ibarat cermin bening yang mampu memantulkan cahaya Ilahi. Sebaliknya, hati yang gelisah seperti air keruh yang tidak mampu memantulkan apa pun. Jika kita ingin ide-ide bersinar, maka tugas pertama bukan memperbanyak kerja, tapi menenangkan hati.
Dalam penelitian ilmiah modern, Fred Travis, Direktur Pusat Pengembangan Otak Maharishi International University, Amerika Serikat, menyebut bahwa meditasi (proses untuk mencapai ketenangan hati dan pikiran) mampu meningkatkan fungsi kognitif otak. Bahkan, meditasi tidak memerlukan waktu yang lama untuk meningkatkan kerja otak. Dengan kata lain, ketenangan bisa dilatih — dan hasilnya bisa diukur secara ilmiah.
Hati merupakan salah satu kunci utama untuk mencapai ketenangan. Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa hati adalah tempat di mana Allah menurunkan ketenangan jiwa. Rasulullah saw sendiri menegaskan dalam sabdanya:
“Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging; jika ia baik, maka seluruh jasad baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad rusak. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika hati adalah pusat kendali seluruh kehidupan, maka menjaga ketenangan hati bukan hanya soal spiritualitas, tetapi juga produktivitas. Ketenangan adalah sumber kekuatan batin yang membuat pikiran jernih, tindakan terarah, dan kreativitas mengalir tanpa paksaan.
Menemukan Ruang Sunyi di Tengah Bising Dunia
Di dunia yang serba cepat ini, pencarian ketenangan jiwa semakin penting untuk menjaga kesehatan mental. Ketenangan menyediakan tempat berlindung yang memungkinkan kita mendapatkan kendali, keseimbangan, stabilitas emosional, bahkan menemukan ide-ide baru.
Mungkin inilah yang paling kita butuhkan hari ini: ruang sunyi di tengah kebisingan dunia. Waktu sejenak untuk berhenti, menarik napas, berzikir, dan membiarkan hati beristirahat. Sebab, di situlah sakinah diturunkan — dan dari sanalah ide-ide terbaik muncul.
Produktivitas sejati bukanlah soal seberapa cepat kita berlari, tapi seberapa jernih arah yang kita tuju. Ketika hati tenang, pikiran menjadi terang. Dan di antara keheningan yang bersandar pada Allah, lahirlah kreativitas yang bukan hanya indah, tapi juga bernilai ibadah.
Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini