Di zaman sekarang, dunia pendidikan sedang menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Banyak orang tua dan lembaga pendidikan berlomba-lomba mengejar prestasi akademik anak sejak usia dini. Anak-anak didorong untuk cepat bisa membaca, berhitung, bahkan menguasai berbagai keterampilan yang sebenarnya belum sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Di sisi lain, aspek emosional, sosial, dan moral sering kali tidak mendapatkan perhatian yang seimbang. Akibatnya, tidak sedikit anak yang tumbuh dengan tekanan, kehilangan keceriaan, bahkan mengalami kelelahan mental sejak kecil.
Dalam situasi seperti ini, menjadi penting untuk kembali melihat pendekatan pendidikan yang lebih manusiawi.
Salah satu pendekatan yang menarik untuk dikaji adalah metode pendidikan anak yang dicontohkan oleh Rasulullah, khususnya melalui aktivitas bermain. Pendekatan ini memiliki makna yang sangat dalam jika dipahami secara utuh. Rasulullah menunjukkan bahwa bermain justru menjadi bagian penting dalam mendidik anak.
Dalam banyak riwayat, beliau terlihat sangat dekat dengan anak-anak. Beliau bercanda, bermain, bahkan memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan dirinya tanpa rasa takut. Al-Qur’an sendiri memberikan gambaran tentang pentingnya memperhatikan perkembangan manusia secara bertahap. Dalam Surah An-Nahl ayat 78 disebutkan: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia berkembang secara bertahap. Anak tidak bisa dipaksa untuk langsung menjadi dewasa dalam cara berpikir maupun bertindak. Mereka membutuhkan proses, dan salah satu proses alami itu adalah bermain.
Membangun Kecerdasan Emosional
Salah satu hal yang sering terabaikan dalam pendidikan adalah kecerdasan emosional. Banyak orang lebih fokus pada kecerdasan intelektual, padahal kemampuan mengelola emosi juga sangat penting dalam kehidupan. Melalui bermain, orang tua atau pendidik memiliki kesempatan untuk membangun kedekatan dengan anak. Ketika orang tua ikut bermain, anak merasa diperhatikan dan dihargai. Perasaan ini sangat penting untuk membangun rasa percaya diri.
Rasulullah dikenal sebagai sosok yang sangat lembut terhadap anak-anak. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kasih sayang yang ditunjukkan melalui interaksi, termasuk bermain, akan membentuk anak menjadi pribadi yang lebih stabil secara emosional. Anak yang tumbuh dengan kasih sayang cenderung lebih mudah mengelola emosi dan lebih siap menghadapi tantangan hidup.
Oleh karena itu, dengan menghadirkan kembali aktivitas bermain sebagai bagian dari pendidikan, anak memiliki ruang untuk mengekspresikan diri secara sehat.
Al-Qur’an juga menekankan pentingnya memberi teladan dalam pendidikan. Dalam Surah Al-Ahzab ayat 21 disebutkan: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” Ayat ini mengingatkan bahwa metode pendidikan terbaik adalah melalui contoh nyata. Singkatnya, keterlibatan orang tua dalam aktivitas anak, termasuk bermain, menjadi sangat penting.
Meski memberikan kebebasan, Rasulullah tidak membiarkan anak tanpa batasan. Ada keseimbangan antara kebebasan dan aturan. Anak diberi ruang untuk bereksplorasi, tetapi tetap dalam nilai-nilai yang benar.
Ketika anak melakukan kesalahan, pendekatan yang digunakan dapat berupa koreksi yang penuh empati. Keseimbangan ini penting dalam pendidikan. Terlalu banyak aturan bisa membuat anak tertekan, sementara terlalu sedikit aturan bisa membuat anak kehilangan arah. Pendekatan yang seimbang membantu anak tumbuh dengan baik, secara mental maupun moral.
Ilya Syafa’atun Ni’mah, M.Ag., KUMI., Alumni Bayt Al-Qur’an dan Ustadzah di Cariustadz.id
Tertarik mengundang ustadz Ilya Syafa’atun Ni’mah, M.Ag., KUMI.? Silahkan klik disini