Murid dapat menjelaskan pentingnya kejujuran, tetapi masih menyontek ketika ujian. Mereka memahami arti gotong royong, tetapi enggan membantu teman yang kesulitan. Mereka mengetahui pentingnya menjaga kebersihan, tetapi masih membuang sampah sembarangan. Fenomena ini menghadirkan pertanyaan mendasar, yaitu mengapa sesuatu yang telah dipelajari belum tentu tercermin dalam perilaku sehari-hari?
Fenomena demikian dalam psikologi pendidikan berkaitan dengan konsep transfer of learning, yaitu proses ketika pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dalam suatu situasi pembelajaran diterapkan pada situasi lain. Hajian (2019), dalam kajiannya tentang transfer pembelajaran, menjelaskan pentingnya merancang pembelajaran yang memungkinkan pengetahuan digunakan secara bermakna di luar situasi ketika pengetahuan itu diperoleh. Artinya, murid yang mampu menjawab soal dengan benar belum tentu otomatis mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan nyata.
Persoalan ini mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak cukup hanya membuat murid mengetahui apa yang benar. Pendidikan juga perlu membantu mereka membangun kebiasaan untuk melakukan hal yang benar.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Jumu‘ah [62]: 5 sebagai berikut.
… مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًاۗ
Terjemah:
“5. Perumpamaan orang-orang yang dibebani tugas mengamalkan Taurat, kemudian tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab (tebal tanpa mengerti kandungannya)….”
Pengetahuan dan Tanggung Jawab Pengamalan
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perumpamaan dalam QS. Al-Jumu‘ah [62]: 5 ditujukan kepada orang-orang yang diberi tanggung jawab terhadap Taurat, tetapi tidak menjalankan kandungannya. Mereka diibaratkan seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal, tetapi tidak memahami dan memperoleh manfaat dari isinya (tafsir-qurthubi- [Jilid 17]: 460-461).
Senada dengan itu, Prof. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menerangkan bahwa mereka tidak menunaikan tanggung jawab untuk mengamalkan ajaran kitab yang diberikan kepada mereka (tafsir-al-munir-[Jilid 14]: 563). Kedua penafsiran ini mengingatkan bahwa memiliki pengetahuan tidak sama dengan menjalankan pengetahuan tersebut.
Ayat ini tidak secara langsung berbicara tentang murid yang mempelajari pelajaran di sekolah. Namun, pesan etikanya dapat menjadi bahan refleksi bagi dunia pendidikan, pengetahuan membawa tanggung jawab, bukan sekadar menjadi sesuatu yang disimpan dalam ingatan. Apa yang dipelajari semestinya memberikan arah bagi cara seseorang bersikap dan bertindak.
Berasal dari Ruang Kelas Menuju Kehidupan Nyata
Lalu, bagaimana agar pembelajaran tidak berhenti pada pengetahuan? Guru perlu menghubungkan materi dengan pengalaman konkret murid. Ketika mempelajari kejujuran, misalnya, murid dapat diajak merefleksikan perilaku saat mengerjakan ujian, menyelesaikan tugas kelompok, atau mengakui kesalahan. Ketika mempelajari kepedulian lingkungan, murid perlu memperoleh kesempatan untuk mempraktikkannya melalui kebiasaan menjaga kebersihan dan merawat tanaman di madrasah.
Keteladanan juga penting. Nilai yang disampaikan melalui penjelasan akan lebih bermakna ketika murid melihat contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pembiasaan dan refleksi membantu murid memahami hubungan antara materi yang dipelajari dan keputusan yang mereka ambil.
Tentu, perubahan perilaku tidak berlangsung seketika. Murid membutuhkan bimbingan, kesempatan berlatih, dan lingkungan yang mendukung. Karena itu, guru tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang kamu pelajari hari ini?” Pertanyaan lain yang tak kalah penting adalah, “Bagaimana pengetahuan itu dapat kamu terapkan dalam kehidupanmu?”
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang dapat diingat murid, melainkan juga tentang bagaimana pengetahuan itu perlahan-lahan membimbing perilakunya. Sebab, belajar tidak seharusnya berhenti ketika murid mengetahui apa yang benar, tetapi berlanjut ketika mereka mulai berusaha melakukannya. Wallahu A‘lam.
Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini