Benarkah Hidup Hanyalah Permainan? Memahami QS. Al-Hadid: 20

Berdiskusi dan berbagi kisah mengenai kehidupan, memang selalu memberikan kesan-kesan baru yang bisa kita resapi. Baik dari kisah-kisah kebaikan maupun cerita tidak baik yang bisa kita jadikan pelajaran. Sebagian dari kita sangat serius dalam menjalaninya; sampai harus merasa tertekan dan tidak nyaman bila terjadi satu atau dua hal yang tidak sesuai dengan rencana dan keinginan. Sebagian yang lain, ada yang begitu santainya dan mengalir dalam menjalani hidup. Tak jarang; si-santai akan sering bergumam “tenang saja, hidup hanyalah permainan dan senda gurau belaka”.

Alih-alih merujuk pada narasi yang dibawakan al-Qur’an, kalimat ini seringkali kontra-produktif karena berujung pada pembenaran atas kemalasan dan ke-engganan untuk menjalani suatu hal dengan totalitas dan dedikasi penuh. Mari kita renungi bersama, Firman Allah SWT pada QS. Al-Hadid: 20:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ  كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ  ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.

Dalam ayat ini, hidup bukan sekedar disifati dengan permainan dan kelengahan semata, tetapi juga disebut sebagai perhiasan. Hingga ada dari manusia yang sang saling berlomba dalam kemegahan, kekayaan dan keturunan. Wahbah al-Zuhaily menafsirkan:

{لَعِبٌ} ما لا فائدةَ فيهُ. {وَلَهْوٌ} ما يشغلُ الإنسانَ عمّا يعنيهِ. {وَزِينَةٌ} تَزيِينٌ أو ما يتزيَّنُ به، كالمناصبِ العاليةِ والمَراكبِ البهيَّةِ والمنازِلِ الرَّفيعَةِ والملابِسِ الفَاخرةِ. {وَتَفاخُرٌ} بالألقاب والأمجاد والأنساب. {وَتَكاثُرٌ} مباهاة بكثرة الأموال والأولاد. 

Yang dimaksud dengan “permainan” adalah segala sesuatu yang tidak mengandung manfaat. “Kelalaian” ialah segala hal yang menyibukkan manusia dari perkara yang semestinya menjadi perhatian dan kepentingannya. “Perhiasan” berarti berhias atau segala sesuatu yang dijadikan sebagai sarana berhias, seperti jabatan yang tinggi, kendaraan yang indah, rumah-rumah yang megah, dan pakaian-pakaian yang mewah. Adapun “saling berbangga” adalah membanggakan gelar, kemuliaan, dan keturunan. Sedangkan “berlomba memperbanyak” ialah saling bermegah-megahan dengan banyaknya harta dan anak.

Hiduplah Dalam Kemanfaatan

Benar bahwa al-Qur’an menyebut bahwa hidup adalah permainan, tapi ini ditujukan pada bentuk hidup yang berisi hal-hal nir-manfaat. Banyak kelalaian dan sedikit dalam mengingat Allah Swt. Sehingga seseorang yang demikian bukan hanya dianggap “bermain-main” atas kesempatan hidup di dunia, tapi ia turut “dipermainkan” oleh hawa nafsu dan hiruk-pikuk dunia yang melenakan. Kelak, ia akan menelan satu porsi besar penyesalan saat hari kebangkitan.

Kita ambil contoh permainan sepak bola; setiap pemain mengerti betul bahwa itu hanyalah permainan. Tapi setiap pemain berusaha tampil maksimal untuk menjemput hasil yang terbaik pada akhirnya. Bahkan, tak jarang kita temukan kesungguhan sampai titik akhir membawa pada hasil yang di luar dugaan. Mereka sungguh-sungguh dan berusaha untuk “menang” dalam permainan.

Wahbah al-Zuhaily menegaskan bahwa ayat ini ingin menunjukkan keagungan akhirat dan mendeskripsikan dunia dengan 5 sifat. Pertama sebagai permainan; serupa anak-anak yang gemar bermain dan menguras tenaganya hingga berakhir pada kelelahan tak berfaidah. Kedua sebagai Hiburan; ini menggambarkan usia remaja yang berhias hura-hura, hiburan yang hanya menyisakan penyesalan. Ketiga adalah perhiasan; perilaku menutupi kekurangan dengan pakaian, asesoris yang “branded” untuk menutupi kekurangan, terlihat bergengsi padahal kemampuannya terseok-seok. Keempat; yakni Tafakhur atau saling membanggakan diri, berbangga dengan status sosial, jabatan, nasab, kekuatan fisik atau bahkan pengikut yang banyak. Ini adalah hal fana dan pasti akan sirna

Terakhir, dunia merupakan tempat saling bersaing dalam banyaknya harta dan anak. Dunia memang laksana permainan. Namun seorang mukmin bukanlah pemain yang larut dalam permainan. Ia adalah pemain yang memahami bahwa setiap detik permainan akan dimintai pertanggungjawaban ketika peluit kehidupan ditiup untuk terakhir kalinya. Karena itu, selama permainan ini masih berlangsung, isilah dengan amal yang paling dicintai oleh Allah SWT. Wallāhu A’lam.

Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini