Setiap pergantian tahun Hijriah, umat Islam menyambut datangnya bulan Muharram dengan berbagai kegiatan keagamaan. Sebagian mengisinya dengan doa bersama, kajian Islam, santunan kepada anak yatim, maupun memperbanyak ibadah sunnah seperti puasa Asyura. Namun, di balik berbagai tradisi tersebut, Muharram sesungguhnya membawa pesan spiritual yang jauh lebih dalam. Bulan ini adalah momentum untuk mengingat kembali bagaimana Allah Swt. menolong hamba-hamba-Nya pada saat semua jalan tampak tertutup.
Salah satu kemuliaan bulan Muharram terletak pada larangan berbuat zalim atau anjuran memperbanyak amal saleh. Selain itu, juga terletak pada berbagai peristiwa besar yang mengingatkan manusia bahwa pertolongan Allah selalu datang pada waktu yang paling tepat. Kisah Nabi Musa a.s. yang diselamatkan dari kejaran Fir’aun pada hari Asyura menjadi simbol bahwa kekuasaan sebesar apa pun tidak akan mampu mengalahkan kehendak Allah.
Belajar dari Kisah Nabi Musa
Salah satu peristiwa yang paling erat dikaitkan dengan Muharram adalah keselamatan Nabi Musa a.s. dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun. Al-Qur’an menggambarkan situasi yang sangat mencekam. Di depan terbentang Laut Merah, sementara di belakang pasukan Fir’aun terus mendekat.
Allah berfirman: “Tatkala kedua golongan itu saling melihat, berkatalah para pengikut Musa, ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Musa menjawab, ‘Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.'” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 61–62)
Jawaban Nabi Musa menunjukkan puncak keyakinan seorang mukmin. Secara logika manusia, tidak ada jalan untuk menyelamatkan diri.
Iman membuat beliau melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata yaitu pertolongan Allah. Kemudian Allah memerintahkan Musa memukulkan tongkatnya ke laut sehingga laut terbelah menjadi jalan yang kering. Bani Israil selamat, sedangkan Fir’aun dan tentaranya ditenggelamkan. Peristiwa ini mengajarkan bahwa pertolongan Allah tidak selalu datang sesuai dengan perkiraan manusia. Ketika semua sebab dunia tampak tertutup, Allah mampu menciptakan sebab baru yang sama sekali berada di luar nalar manusia.
Pesan Muharram menjadi sangat penting di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat modern. Tidak sedikit keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi, anak muda yang kehilangan arah hidup, pekerja yang menghadapi ketidakpastian, maupun masyarakat yang menyaksikan berbagai konflik kemanusiaan di berbagai belahan dunia.
Dalam situasi seperti itu, kisah Nabi Musa mengingatkan bahwa optimisme lahir karena keyakinan kepada Allah.
Terakhir, Muharram mengajarkan bahwa memperbanyak ibadah harus berjalan seiring dengan memperbaiki hubungan sosial, membantu sesama, memperkuat solidaritas, dan menjaga keadilan. Pertolongan Allah sering kali hadir melalui sebab-sebab yang melibatkan usaha manusia sendiri. Karena itu, memasuki bulan Muharram hendaknya menjadi momentum untuk memperbarui keimanan, memperkuat tawakal, memperbanyak amal saleh, dan menumbuhkan harapan kepada Allah. Sebagaimana laut yang terbelah bagi Nabi Musa, setiap kesulitan yang dihadapi seorang mukmin pun dapat berubah menjadi jalan keselamatan apabila ia tetap berpegang teguh pada iman, kesabaran, dan ketaatan kepada-Nya.
Ilya Syafa’atun Ni’mah, M.Ag., KUMI., Alumni Bayt Al-Qur’an dan Ustadzah di Cariustadz.id
Tertarik mengundang ustadz Ilya Syafa’atun Ni’mah, M.Ag., KUMI.? Silahkan klik disini