Belajar Tadabbur dari Dr. Muchlis Hanafi, MA

Ada satu pertanyaan mendasar yang semestinya terlintas bagi umat muslim. “Mengapa Al-Qur’an, meski begitu banyak dibaca, dikaji, ditafsirkan bahkan dilombakan tetapi belum menghasilkan daya ubah yang bisa dirasakan?” Demikianlah pertanyaan awal yang disampaikan Muchlis M. Hanafi dalam webinar Kajian Membumikan Al-Qur’an, 27 Agustus 2026.

Tidak hanya demikian, bahkan Al-Qur’an juga sudah mulai mudah ditemukan dalam dunia konten, hilir mudik di beranda kita namun tak menambah kedekatan pengguna gadget dengan Al-Qur’an. Ini menjadi penting bagi kita untuk merenungi kembali firman-Nya dalam QS. Shad: 29

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ 

(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.

Wahbah al-Zuhaili menguatkan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk yang memiliki banyak kebaikan dan keberkahan. Mengandung penawar bagi siapa yang berpegang teguh padanya dan menjadi jalan keselamatan bagi siapa yang mengikutinya. Memang, tujuan Al-Qur’an diturunkan ini untuk ditadabburi dan dipikirkan makna-maknanya, bukan hanya sekedar dibaca lalu lewat begitu saja.

Hal ini selaras juga dengan apa yang dikatakan Hasan al-Bashri:

والله ما تدّبرُهُ بِحفظِ‍ حروفِهِ، وإضاعةِ حُدودهِ، حتى إن أحدهم ليقول: قرأْتُ القرآنَ كلَّهُ، ما يُرَى لِلْقرآنِ عليهِ أثرٌ في خُلُقٍ ولا عملٍ

Demi Allah, tadabbur Al-Qur’an bukan sekedat menjaga dan menghafal huruf-hurufnya, sementara tuntunan di dalamnya diabaikan. Sampai ada orang berkata: “Aku sudah membaca Al-Qur’an seluruhnya”. Tapi, Al-Qur’an sama sekali tidak membekas pada Akhlak dan Perbuatannya.

Hubungan Tadabbur Dengan Tafsir

Setelah memaparkan bahwa tadabbur bukan hanya membaca, menghafal dan mengkaji; Muchlis kembali menegaskan bahwa tadabbur berkaitan erat dengan tafsir. Sehingga tidak dibenarkan juga tadabbur jika terlalu jauh dari tafsir.

Tafsir bekerja saat kita bertanya tentang makna ayat. Menjaga kita agar tidak salah paham dengan ayat. Kunci dalam melakukan ini satu; hindari sebab-sebab kesalahan dalam penafsiran. Sedangkan Tadabbur ialah bertanya Apa konsekuensinya buat kehidupan kita? juga menjaga pemahaman tidak berhenti sebagai ilmu, tapi lahir sebagai tindakan nyata. Butuh kejernihan hati dalam membaca diri dan hati.

Tadabbur adalah perjalanan dari memahami ayat lalu berusaha membawa ayat ini pada kesadaran. sehingga menjadi interaksi-reaktif dengan realitas antara pembaca dengan Al-Qur’an.

Kenapa Harus Tadabbur?

Karena Al-Qur’an adalah hidayah. Sebagaimana rambu lalu lintas yang tidak hanya untuk diketahui tapi harus dipatuhi. Karena rambu ini akan mencegah pengguna jalan dari accident. Al-Quran bukan hanya berbicara pada akal, tapi juga hati. Akal itu menalar dan hati itu merasa, merenungi. Tujuan al-Qur’an diturunkan adalah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Apa yang Harus Dilakukan Sebelum Tadabbur?

Ini penting diperhatikan, agar pra-syarat tadabbur terpenuhi dan pelaku tadabbur dapat benar-benar meresapi dan mendapatkan manfaat dari tadabbur. 

Pertama, meluruskan niat. Hindari tujuan-tujuan tadabbur yang goals nya adalah popularitas, pujian dan ambisi-ambisi yang tidak mendekatkan diri pada nilai-nilai Al-Qur’an. Kedua, tumbuhkanlah perasaan yang mendalam bahwa betapa butuhnya kita pada Allah Swt. Muchlis Hanafi mengutip pernyataan menggugah dari Ibn Athaillah:

 من علامات النجح في النهايات الرجوع إلى الله في البدايات

Di antara tanda keberhasilan pada akhirnya adalah kembali pada Allah sejak permulaannya

Ketiga, yang perlu dimiliki sebelum tadabbur Al-Qur’an ialah menghadirkan keagungan Al-Qur’an. Memahami betapa agungnya Kalam-Allah. Mengagungkan juga siapa yang berfirman dan menghadirkan hati sekaligus meninggalkan bisikan-bisikan yang dapat mengotori.

Keempat, berusaha untuk hidup dalam naungan teks. Menganggap jika ada ayat-ayat teguran seolah ditujukan untuk diri kita sendiri. Sehingga ada personalisasi yang hadir dalam membaca ayat Al-Qur’an. Lalu, membiarkan hati kita terpengaruh. Jika ada ayat-ayat rahmat maka melahirkan harapan dan jika ada ayat-ayat ancaman melahirkan ketakutan pada-Nya dan membawa diri untuk lebih taat. Membayangkan diri tengah berhadapan dengan Allah Swt, dipandang-Nya dan didengar-Nya.

Puncaknya Adalah Taghyir; Transformasi Diri

Setidaknya dalam proses perjalanan tadabbur, ada enam fase yaitu: Tilawah – Fahm – Tafsir – Tadabbur – Tadzakkur – Taghyir. Bergerak dari lisan, menuju akal, turun ke hati, lalu menjelma jadi amal.

Bermula dari membaca, memahami, mencari penjelasan melalui tafsir, mencari makna dibaliknya (tadabbur), lalu tadzakkur dimaknai pula oleh Wahbah az-Zuhaili dengan  membawa kesadaran pada diri, Setelah sadar inilah maka lahir menjadi taghyir atau adanya transformasi pada orang-orang yang mentadabburi Al-Qur’an.

Pada akhirnya, tadabbur mengajak kita melampaui pertanyaan tentang seberapa sering Al-Qur’an dibaca, seberapa banyak ayat dihafal, atau seberapa luas pengetahuan kita tentangnya. 

Pertanyaan yang lebih penting adalah: sejauh mana Al-Qur’an telah membekas dan mengubah diri kita? Sebab keberhasilan interaksi dengan Al-Qur’an tidak hanya terlihat ketika ayat-ayatnya mampu memenuhi ingatan dan menambah pengetahuan, tetapi ketika petunjuknya perlahan menjelma dalam cara berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan. Di titik inilah tadabbur menemukan puncaknya: ketika ayat yang dibaca tidak berhenti sebagai suara di lisan dan pengetahuan di pikiran, tetapi turun ke hati dan melahirkan perubahan.

Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Pendiri Antassalam Institute dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini