Dalam tradisi tasawuf, penyakit paling berbahaya justru yang tidak tampak di permukaan. Penyakit hati seperti riya (pamer dalam beramal) dan ujub (mengandalkan amal sendiri), misalnya, adalah dua “penyakit” yang tidak mudah dihilangkan. Keduanya tidak selalu terlihat oleh manusia, tetapi sangat menentukan nilai amal di sisi Allah.
Amal yang secara lahiriah tampak bernilai shalih bisa berubah menjadi hampa ketika niatnya bergeser dari mencari ridha Allah menuju pujian dan pengakuan manusia. Riya menjadikan ibadah kehilangan orientasi transendennya. Shalat, sedekah, puasa, bahkan dakwah dan aktivitas keagamaan lainnya dapat berubah menjadi arena pencitraan ketika motifnya adalah citra diri.
Dalam kondisi demikian, amal tidak lagi bernilai sebagai bentuk penghambaan, melainkan sebagai instrumen sosial untuk memperoleh reputasi. Rasulullah ﷺ bahkan menyebut riya sebagai syirik kecil, karena di dalamnya terdapat penyekutuan tujuan yakni Allah secara lisan, tetapi manusia secara motivasi. Ketika pujian manusia lebih diharapkan daripada penilaian Allah, maka hakikat tauhid dalam amal telah tercemar.
Sementara itu, mengandalkan amal atau ujub ialah bentuk kesombongan spiritual yang lebih halus. Seseorang merasa amalnya cukup untuk menjamin keselamatan, seakan-akan surga adalah hak yang layak ia terima karena akumulasi ibadahnya. Ia lupa bahwa keselamatan bukan semata hasil kerja manusia, melainkan rahmat Allah. Ujub menumbuhkan rasa superioritas, meremehkan orang lain, dan pada saat yang sama bisa melahirkan keputusasaan ketika tergelincir dalam dosa. Ketika standar keselamatan diukur dari diri sendiri, maka sekali gagal, seluruh bangunan rasa percaya diri itu runtuh.
Bahaya Riya dan Mengandalkan Amal
Riya dan ujub, Keduanya menghapus pahala, menjadikan amal sia-sia, serta menjerumuskan pelakunya ke dalam bentuk syirik yang halus namun mematikan. Menurut Gus Baha, bahaya utama riya adalah hilangnya keikhlasan dan pahala, namun yang lebih berbahaya adalah mengandalkan amal (ujub) karena seolah-olah surga bisa “dibeli” dengan ibadah, padahal masuk surga adalah murni karena rahmat Allah. Tentu ikhlas ini harus dilatih. Kalau ibadah menunggu ikhlas, sampai matipun seseorang tidak bisa ikhlas. Karena ikhlas itu mengandaikan sesuatu hal yang lupa kalau ia beramal dan tidak pernah mengingatnya.
Dalam hal ini, tanda amal yang tidak ikhlas adalah adanya kepentingan atau motif/ harapan tertentu di balik suatu ibadah. Sebaliknya, orang yang benar-benar ikhlas beribadah semata-mata adalah murni karena dirinya adalah hamba Allah dan sudah menjadi kewajiban baginya untuk menyembah Allah SWT.
Bagaimana dengan amal yang dipertontonkan?
Lantas bagaimana dengan amal yang dipertontonkan? KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha menukil pendapat Imam al-Ghazali bahwa tidak semua amal yang diperlihatkan otomatis menjadi riya. Menurutnya, yang terpenting adalah menjaga niat tetap murni karena Allah SWT, tidak ingin dipuji manusia sebagaimana sabda Nabi SAW,
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ
Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian [HR. Muslim].
Menurut Imam Ghazali, persoalannya tidak sekadar amal itu terlihat atau tidak terlihat, tetapi apakah hati kita selamat dari riya atau tidak. Jika seseorang mampu menjaga niatnya tetap lurus dan bersih dari keinginan dipuji, maka menampakkan amal justru bisa lebih utama. Mengapa? Karena kebaikan yang terlihat dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi orang lain. Ibadah tidak hanya berdimensi personal, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan edukatif.
Karena itu, kita tidak perlu berlebihan dalam “mendewakan” khumul, yakni sikap menyembunyikan diri dan amal. Memang, menyembunyikan amal adalah cara aman untuk menghindari riya. Namun, tidak semua amal harus disembunyikan. Ada situasi di mana kebaikan perlu ditampakkan agar bisa diteladani.
Nabi Muhammad sendiri memaklumatkan bahwa beliau adalah nabi. Itu bukan bentuk pamer, melainkan agar risalahnya bisa diikuti dan ditiru. Beliau juga memperlihatkan cara shalat kepada para sahabat supaya mereka bisa menirunya. Bayangkan jika para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara shalat yang benar?” lalu beliau menjawab, “Itu rahasia.” Tentu umat akan kebingungan dan tidak memiliki pedoman yang jelas.
Di sinilah pentingnya menampakkan amal dalam konteks tertentu. Ketika niatnya benar, amal yang terlihat bukan menjadi ajang pamer, melainkan sarana pendidikan. Kebaikan yang dicontohkan secara terbuka dapat membimbing, mengajarkan, dan memudahkan orang lain untuk menjalankan ajaran agama dengan benar.
Namun demikian, Gus Baha juga mengingatkan agar kita tidak terjebak pada pencitraan. Menampakkan amal memang bisa bernilai baik jika niatnya untuk memberi teladan. Tetapi jika tujuan utamanya adalah pujian, pengakuan, atau popularitas, maka itulah yang dinamakan riya dan sangat dilarang dalam Islam. Amal yang semula bernilai ibadah bisa berubah menjadi sia-sia karena orientasinya bergeser dari Allah kepada manusia.
Karena itu, sikap hati tetap menjadi kunci utama dalam beramal. Keikhlasan harus menjadi landasan atas suatu amal. Selama niat tetap lurus karena Allah, amal yang dilakukan—meskipun disaksikan banyak orang—tidak otomatis menjadi riya. Sebaliknya, amal yang tersembunyi pun bisa rusak jika di dalam hati masih ada keinginan untuk dipuji atau merasa lebih baik dari orang lain.
Gus Baha juga menasihati agar kita tidak mudah menghakimi orang yang memperlihatkan amalnya. Tidak semua kebaikan yang tampak berarti pamer. Bisa jadi ia benar-benar ingin memberi contoh atau mengajak orang lain pada kebaikan. Sebab persoalan niat hanya Allah yang tahu. Sikap yang bijak adalah menjaga hati sendiri sekaligus berbaik sangka kepada sesama.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini