Bulan Ramadan acapkali disalahartikan sebatas ritual pemindahan jam makan, bukan sebagai momentum transformasi diri. Akibatnya, esensi puasa sebagai ajang penempaan spiritual dan disiplin diri sering kali luntur oleh kebiasaan-kebiasaan minor yang tanpa disadari terus diulang. Padahal, Al-Qur’an berkali-kali menegaskan prinsip pengendalian diri dan keseimbangan sebagai ruh utama ibadah.
Pertama, kesalahan mendasar kerap terjadi sejak dini hari, yakni fenomena makan sahur berlebihan yang dibarengi dengan kebiasaan tidur kembali setelahnya. Secara medis maupun syariat, perilaku ini tidak produktif, mengganggu metabolisme, dan justru menimbulkan rasa tidak nyaman serta kelesuan saat beraktivitas di pagi hari.
Konsumsi berlebihan bertentangan dengan nilai spiritual Islam, yang menekankan keseimbangan dan pengendalian diri (QS. Al-A’raf: 31). Perilaku konsumtif tidak hanya memengaruhi kesehatan dan sosial, tapi juga mencerminkan lemahnya kesadaran beragama.
Sahur sebaiknya cukup untuk memenuhi kebutuhan energi, bukan menimbun makanan. Waktu antara sahur dan fajar bisa dimanfaatkan untuk kegiatan spiritual, seperti zikir atau membaca Al-Qur’an, agar jiwa siap menjalani puasa seharian.
Kedua, tidur setelah sahur sering membuat shalat Subuh terlambat dan membuang waktu di pagi hari. Hal ini menurunkan produktivitas dan membuat tubuh terasa lebih berat. Padahal, waktu Subuh memiliki keutamaan khusus dalam Islam (QS. Al-Isra’: 78).
Penegasan bahwa shalat Subuh “disaksikan” menunjukkan urgensi dan keutamaannya. Maka, disiplin bangun lebih awal untuk sahur harus dibarengi komitmen untuk langsung beraktivitas setelah shalat Subuh. Dengan memaksakan diri produktif di pagi hari, ritme sirkadian tubuh akan terjaga, sehingga kebugaran tetap terpelihara hingga matahari terbenam.
Ketiga, saat siang hari rasa lapar sering membuat kita ingin tidur agar tidak terasa. Padahal, puasa adalah latihan menahan diri dan mengatur emosi, bukan alasan untuk bermalas-malasan. Tidur berlebihan justru membuang waktu yang bisa dipakai untuk belajar atau bekerja.
Ibadah tidak memutus kita dari aktivitas sosial dan pekerjaan. Setelah menjalankan kewajiban kepada Allah, kita tetap dianjurkan untuk aktif dan produktif (QS. Al-Jumu’ah: 10). Spiritualitas bukan berarti malas. Rasa lapar seharusnya menjadi pengingat untuk peduli kepada sesama dan tetap semangat beraktivitas. Produktivitas adalah cara terbaik melawan rasa malas saat puasa.
Keempat, di era digital, kecanduan gawai bisa mengurangi makna puasa. Waktu terbuang untuk scrolling media sosial, dan lisan mudah terdorong untuk mengeluh atau bergosip, yang menurunkan nilai spiritual puasa. Menjaga hati dan lisan penting untuk kesempurnaan iman (QS. Al-Hujurat: 12).
Jika puasa adalah latihan menahan diri, maka pengendalian lisan—termasuk lisan digital—menjadi ujian terpentingnya. Membuat jadwal harian yang ketat antara waktu bekerja, beribadah, dan beristirahat adalah keharusan. Kesadaran bahwa puasa adalah menahan lisan, bukan sekadar menahan lapar, harus ditanamkan kuat-kuat dalam perilaku digital kita.
Kelima, saat waktu berbuka tiba, sering kali terjadi euforia yang berujung pada perilaku konsumsi berlebihan atau “balas dendam”. Makan terlalu banyak dan terlalu cepat saat berbuka bisa membuat perut tidak nyaman, tubuh terasa lemas, dan sulit kembali fokus. Karena itu, Islam mengajarkan untuk tidak berlebihan dalam memenuhi kebutuhan, termasuk dalam hal makan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa sikap melampaui batas tidak disukai oleh Allah (QS. Al-Ma’idah: 87).
Larangan ini bersifat universal, termasuk dalam urusan berbuka. Adopsi pola berbuka sesuai sunnah—bertahap dan sederhana—adalah solusi rasional. Membatalkan puasa dengan yang manis dan ringan, memberikan jeda waktu untuk shalat Maghrib, baru kemudian makan berat, akan memberikan ruang bagi pencernaan untuk beradaptasi dan memastikan tubuh mendapatkan energi tanpa efek samping begah.
Keenam, akibat kekenyangan atau keasyikan gawai, banyak orang menjadi malas melaksanakan shalat Tarawih. Ibadah malam yang menjadi kekhasan Ramadan sering terabaikan karena alasan fisik yang tidak mendukung. Al-Qur’an menunjukkan bahwa kedekatan kepada Allah tidak dibangun dari kenyamanan, tetapi dari kesungguhan. Hamba yang dekat kepada-Nya adalah mereka yang rela bangun malam untuk berdoa dengan penuh harap dan rasa takut, serta mau berbagi dari rezeki yang dimiliki.
(QS. As-Sajdah: 16).
Menjadikan Tarawih sebagai prioritas adalah jawabannya. Dengan mengatur porsi makan saat berbuka agar tidak berlebihan, tubuh akan terasa lebih ringan dan siap untuk beribadah. Motivasi diri bahwa kesempatan ini hanya datang setahun sekali harus menjadi pendorong utama untuk konsisten melaksanakan Tarawih.
Pada akhirnya, Ramadhan hanyalah ritual hampa jika kita tetap memelihara kebiasaan lama yang mereduksi makna puasa. Mari berhenti menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Inilah saatnya kita bertransformasi dari sekadar orang yang menahan lapar, menjadi pribadi yang disiplin dan lebih dekat kepada-Nya.
Dr. Edi Sugianto, S.Pd.I, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Dr. Edi Sugianto, S.Pd.I, M.Pd? Silakan Klik disini