Tiga Makna Kata Jahil dalam Al-Quran

Kata “Jahil” atau dalam bahasa Arab yang ditulis dengan جهل termasuk kata yang sering diserap dalam bahasa sehari-hari yang kita gunakan. Biasanya untuk menggambarkan sebuah tindakan konyol atau perilaku yang “mengganggu”. Tidak jarang pula, digunakan untuk melabeli orang yang sulit memahami sesuatu. Kata ini juga dapat ditemukan di dalam al-Qur’an. Pemaknaannya beragam; bergantung pada konteks ayat yang sedang dibahas. Mari kita jelajahi dengan seksama penjelasannya dalam al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an karya dari Raghib al-Ashfahani

Pertama, Jahil dimaknai dengan:

وهو خُلُوُّ النفس من العلمِ، هذا هو الأصل، وقد جعل ذلك بعضُ المتكلّمين معنًى مُقتَضِيًّا للأفعال الخارجَة عن النّظام، كما جعل العلم معنًى مقتضيًّا للأفعال الجارية على النّظام

Jahil adalah kosongnya diri dari ilmu, ini merupakan makna asli dari kata جهل. Sebagaimana para ‘ulama kalam menjadikan hal ini sebagaimana makna yang dikandung oleh perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan aturan.

Sebagai contohnya, mari bersama membaca QS. Al-An’am: 54

اَنَّهٗ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوْۤءًاۢ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَصْلَحَ فَاَنَّهٗ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu karena kejahilan (kebodohan, kecerobohan, dorongan nafsu, amarah dan sebagainya), kemudian dia bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kekosongan ilmu tidak selalu berhenti pada ketidaktahuan. Ia dapat melahirkan tindakan yang keluar dari tatanan yang semestinya. Karena itu, kejahilan dapat menjadi sebab seseorang bertindak buruk, ceroboh, atau mengikuti dorongan hawa nafsunya.” Tetapi, jika ia memohon ampun pada Allah SWT dari apa yang ia lakukan, maka Allah akan mengampuninya.

Kedua, Jahil dimaknai dengan:

اعتقاد الشّيء بخلاف ما هو عليه

Meyakini sesuatu yang berbeda dengan hakikatnya.

Sederhananya, seseorang meyakini sesuatu tidak sebagaimana hakikat sebenarnya. Ia merasa telah memahami suatu perkara, padahal pemahamannya justru berbeda dengan kenyataan. Dalam bahasa Abu Hamid al-Ghazali, ini disebut dengan Rajulun la yadri, wa la yadri annahu la yadri. Orang yang tidak faham lalu tidak sadar bahwa dirinya tidak paham. Dalam bahasa sehari-hari kita disebut dengan Jahil Murakkab. 

Contoh sederhana adalah ketika seorang pemimpin merasa bahwa jabatan adalah sebuah privilege. Lalu, ia berpikir dengan amanat tersebut bisa berbuat yang dia mau. Padahal esensi dari amanat adalah pertanggung-jawaban. Dimana, setiap kebijakan dan keputusan yang diambil akan mengandung konsekuensi. Baik di hadapan manusia, ataupun Allah SWT.

Ketiga, Jahil dimaknai dengan:

فعلُ الشَّيءِ بخلافِ ما حقّّه أن يفعلَ، سواء اعتقد فيه اعتقادا صحيحا أو فاسدا، كمن يترك الصلاة متعمدا

Melakukan sesuatu dengan cara yang tidak sesuai dengan semestinya, baik ia beranggapan bahwa hal itu benar atau salah. Misalnya orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja.

Dalam penjelasan ini, Raghib al-Ashfahani mengutip QS. Al-Baqarah: 67

قَالُوْٓا اَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۗ قَالَ اَعُوْذُ بِاللّٰهِ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ

” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang jahil.

Ketika orang-orang Yahudi menuduh Nabi Musa AS bertindak mengolok-olok, Nabi Musa AS memohon perlindungan pada Allah SWT agar tidak tergolong sebagai orang yang Jahil. Hal ini disebabkan beliau mengerti betul jika mengolok-olok adalah tindakan yang dilarang dan dibenci oleh Allah Swt. Jika beliau tetap melakukannya sedang ia tahu konsekuensi dari perilkau itu; maka niscaya ia tak berbeda dengan orang yang Jahil. 

Manusia bisa jahil karena tidak tahu. Manusia juga bisa jahil karena merasa tahu padahal keliru. Dan yang lebih mengkhawatirkan, manusia bisa disebut jahil ketika sudah mengetahui kebenaran tetapi tindakannya justru menyelisihi apa yang diketahuinya. Wallahu A’lam.

Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini