Self-Doubt Nabi Musa dalam QS. Asy-Syu’ara’ Ayat 13

Self-doubt atau keraguan diri adalah kondisi psikologis ketika seseorang meragukan kemampuan, kapasitas, atau keputusan yang dimilikinya. Keraguan diri merupakan hal yang wajar karena dapat mendorong seseorang untuk melakukan evaluasi diri pada batas-batas tertentu. Namun, apabila terjadi secara berlebihan, self-doubt dapat menghambat perkembangan diri, menurunkan kepercayaan diri, dan membuat seseorang enggan mengambil peluang yang sebenarnya mampu ia jalani.

Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, keraguan diri juga pernah dialami oleh para nabi ketika menghadapi amanah yang besar. Salah satu contohnya adalah Nabi Musa a.s. yang mengungkapkan kekhawatirannya saat menerima perintah Allah untuk berdakwah kepada Fir’aun. Kisah tersebut terekam dalam QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 13 dan memberikan pelajaran penting tentang cara menghadapi keraguan diri secara sehat. Allah berfirman:

وَيَضِيْقُ صَدْرِيْ وَلَا يَنْطَلِقُ لِسَانِيْ فَاَرْسِلْ اِلٰى هٰرُوْنَ 

Terjemah:

“13.  Dadaku terasa sempit dan lidahku kelu. Maka, utuslah Harun (bersamaku).

Tafsir QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 13 tentang Isyarat Kekhawatiran Nabi Musa

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Nabi Musa a.s. menyampaikan kondisi yang ia rasakan ketika diperintahkan menghadapi Fir’aun. Beliau khawatir tidak dapat menyampaikan risalah secara sempurna karena keterbatasan yang ada pada dirinya, khususnya dalam berbicara. Namun, keraguan tersebut tidak membuat beliau menolak perintah Allah, melainkan mendorongnya untuk memohon pertolongan dan dukungan (tafsir+ibnu+katsir [Jilid 6]: 142).

Imam Al-Qurṭhubi juga menjelaskan bahwa ungkapan Nabi Musa menunjukkan sifat manusiawi seorang nabi ketika menghadapi tugas yang sangat berat karena tugas berat itu sebagai permulaan dan menjadi satu kekhawatiran. Beliau menyadari keterbatasannya, tetapi tetap bersedia menjalankan amanah yang diberikan Allah (tafsir-qurthubi- [Jilid 13]: 226).

Sementara itu, Prof. Wahbah az-Zuḥaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan ketakutan Nabi Musa akan pendustaan orang-orang ingkar tersebut sehingga nantinya dapat menyebabkan beliau bersedih dan sesak dadanya (tafsir-al-munir-  [Jilid 10]: 136). Hal ini menunjukkan pentingnya mengenali kelemahan diri secara proporsional. Kesadaran terhadap keterbatasan bukan untuk menyerah, melainkan untuk mencari solusi dan pertolongan agar tugas dapat dijalankan dengan baik.

Mengatasi Self-Doubt Ala Nabi Musa

Self-doubt muncul ketika seseorang terlalu meragukan kemampuan dirinya sehingga sulit mengambil keputusan atau menghadapi tantangan baru (Anthony, 2002, /doi/abs/). Individu cenderung berfokus pada kelemahan yang dimiliki dan mengabaikan potensi serta pengalaman positif yang pernah diraih. 

Keraguan diri sering kali meningkat ketika seseorang menghadapi situasi yang belum pernah dialami sebelumnya. Misalnya saat pertama kali menjadi guru, memimpin organisasi, melanjutkan studi, atau memasuki dunia kerja. Dalam kondisi tersebut, seseorang dapat merasa tidak siap meskipun sebenarnya memiliki kemampuan yang memadai.

Kisah Nabi Musa dalam QS. Asy-Syu’ara’: 13 menunjukkan bahwa mengakui keterbatasan diri tidak selalu berarti kehilangan kepercayaan diri. Nabi Musa menyadari kelemahannya dalam berbicara, tetapi beliau tidak menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk meninggalkan tugas yang diberikan Allah. Sebaliknya, beliau mencari dukungan melalui Nabi Harun dan tetap menjalankan amanah tersebut.

Sikap ini menunjukkan bentuk adaptive self-awareness, yaitu kemampuan mengenali kelemahan diri secara sehat tanpa terjebak dalam pesimisme. Individu yang memiliki kesadaran diri yang baik mampu menerima keterbatasannya sekaligus tetap percaya bahwa dirinya dapat berkembang dan mengatasi tantangan yang dihadapi (Ariana, 2026, article/view/).

Melalui QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 13, Al-Qur’an mengajarkan bahwa keraguan diri dapat diatasi dengan mengenali potensi yang dimiliki, mencari dukungan yang tepat, dan menumbuhkan kepercayaan kepada pertolongan Allah. Dengan cara ini, seseorang tidak akan terjebak dalam ketakutan yang menghambat langkahnya menuju perkembangan diri.

Penutup

Keraguan diri merupakan pengalaman yang wajar ketika seseorang menghadapi tantangan dan tanggung jawab baru. Melalui QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 13, Al-Qur’an menunjukkan bahwa mengakui keterbatasan diri bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah awal untuk mencari solusi dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Dengan mengenali kemampuan diri secara realistis, mencari dukungan yang tepat, dan bertawakal kepada Allah, seseorang dapat mengubah keraguan diri menjadi motivasi untuk terus bertumbuh dan menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Wallahu A’lam.

Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini