Perfectionism merupakan kecenderungan seseorang untuk menetapkan standar yang sangat tinggi terhadap dirinya sendiri dan merasa tidak puas ketika hasil yang dicapai belum sesuai dengan harapan. Berkaitan dengan kehidupan guru, kecenderungan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk. Guru ingin setiap pembelajaran berjalan sempurna, seluruh siswa memahami materi, administrasi terselesaikan tanpa kesalahan, dan dirinya selalu mampu memberikan yang terbaik.
Keinginan untuk memberikan yang terbaik tentu merupakan sesuatu yang positif. Namun, ketika standar tersebut terlalu tinggi dan disertai ketakutan berlebihan terhadap kesalahan, perfectionism justru dapat menjadi sumber tekanan psikologis. Guru dapat merasa bersalah ketika pembelajaran tidak berjalan sesuai rencana, kecewa ketika siswa belum mencapai target, atau menganggap dirinya gagal hanya karena terdapat kekurangan kecil.
Dalam konteks inilah Islam menawarkan perspektif yang menenangkan. Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan Allah tidak memberikan beban di luar kemampuan hamba-Nya.
Al-Baqarah [2]: 286 dan Batas Kemampuan Manusia
Allah Swt. berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ ….
Terjemah:
“286. Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya….”
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa konteks ayat ini berkaitan dengan beban syariat disesuaikan dengan kemampuan manusia (tafsir-qurthubi- [Jilid 3]: 959). Sementara itu, Prof. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menerangkan bahwa Allah mengetahui kemampuan dan keterbatasan setiap manusia sehingga tidak memberikan kewajiban di luar kesanggupannya (tafsir-al-munir- [Jilid 2]: 170).
Prinsip tersebut dapat menjadi pengingat bagi guru bahwa menjadi pendidik yang baik tidak berarti harus menjadi guru yang sempurna. Sebab proses pendidikan selalu melibatkan banyak faktor yang berada di luar kendali guru.
Menjadi Guru yang Baik, Tidak Harus Sempurna
Islam tidak mengajarkan manusia untuk mengabaikan kualitas. Guru tetap perlu profesional, disiplin, bertanggung jawab, dan terus meningkatkan kompetensi. Namun, profesionalitas tidak sama dengan kesempurnaan.
Ada perbedaan antara striving for excellence dan perfectionism. Prinsip pertama mendorong seseorang untuk berkembang, sedangkan yang kedua dapat membuat seseorang merasa tidak pernah cukup (Lasalle & Hess, 2022, articles/). Guru yang sehat secara psikologis dapat mengatakan:
“Saya sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi masih ada yang perlu diperbaiki.”
Kalimat tersebut bukan bentuk kepuasan terhadap kekurangan, melainkan bentuk self-compassion dan penerimaan bahwa proses peningkatan membutuhkan waktu. QS. Al-Baqarah [2]: 286 mengingatkan bahwa manusia memiliki batas. Kesadaran terhadap batas tersebut bukan alasan untuk berhenti berkembang, tetapi menjadi dasar untuk menetapkan harapan yang lebih realistis terhadap diri sendiri.
Perfectionism juga dapat membuat guru merasa bersalah ketika beristirahat. Ada perasaan bahwa waktu harus selalu digunakan untuk membuat perangkat pembelajaran, memeriksa tugas, mengikuti pelatihan, atau meningkatkan kompetensi.
Padahal, guru adalah manusia yang membutuhkan istirahat. Kelelahan bukan selalu tanda kurangnya dedikasi. Terkadang, tubuh dan pikiran memang membutuhkan jeda agar dapat kembali bekerja dengan baik.
Menjaga diri bukan berarti mengurangi tanggung jawab sebagai guru. Justru, guru yang mampu menjaga keseimbangan dirinya memiliki peluang lebih besar untuk hadir secara optimal bagi peserta didik.
Penutup
Perfectionism menjadi bumerang bagi guru ketika keinginan untuk menjadi lebih baik dapat berubah menjadi beban ketika seseorang menuntut dirinya untuk selalu sempurna. QS. Al-Baqarah [2]: 286 memberikan perspektif penting bahwa Allah tidak membebani seseorang melampaui kemampuannya. Prinsip ini dapat menjadi pengingat bahwa guru tidak dituntut menjadi manusia yang sempurna, tetapi menjadi manusia yang terus belajar, berusaha, dan memperbaiki diri. Wallahu A‘lam.
Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini