Bulan Ramadan selalu mengingatkan umat Islam pada sebuah peristiwa agung dalam sejarah manusia, yaitu turunnya Al-Qur’an. Peristiwa ini dikenal sebagai Nuzulul Qur’an, momentum ketika wahyu Allah Swt mulai diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai petunjuk bagi umat manusia.
Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa kitab suci ini diturunkan pada bulan Ramadan. Allah berfirman dalam Surah Al-Qadr ayat pertama:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.”
Sedangkan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw adalah lima ayat pertama dari Surah Al-Alaq:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Ayat-ayat ini turun ketika Nabi Muhammad sedang berkhalwat di Gua Hira dan disampaikan oleh malaikat Jibril. Mayoritas ulama berpendapat bahwa peristiwa ini terjadi pada tanggal 17 Ramadan.
Peristiwa tersebut menjadi awal dari turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia.
Dua Fase Turunnya Al-Qur’an
Para ulama menjelaskan bahwa proses turunnya Al-Qur’an tidak terjadi hanya dalam satu tahap. Ulama tafsir kontemporer Muhammad Ali ash-Shabuni menerangkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam dua fase utama.
Fase pertama adalah turunnya Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauh al-Mahfuzh ke langit dunia, tepatnya ke tempat yang disebut Baitul Izzah. Peristiwa ini terjadi pada malam lailatul qadar di bulan Ramadan.
Fase kedua adalah turunnya Al-Qur’an secara bertahap kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara malaikat Jibril selama sekitar dua puluh tiga tahun. Penurunan yang berangsur-angsur ini terjadi sesuai dengan situasi dan kebutuhan umat pada masa itu.
Hikmah dari turunnya Al-Qur’an secara bertahap ini sangat besar. Di antaranya adalah agar hati Nabi dan para sahabat semakin kuat dalam menghadapi berbagai tantangan dakwah, serta agar ajaran Islam dapat dipahami dan diamalkan secara perlahan oleh masyarakat yang sebelumnya hidup dalam tradisi jahiliah.
Melalui proses tersebut, Al-Qur’an tidak hanya menjadi kitab suci yang dibaca, tetapi juga menjadi panduan yang membimbing masyarakat Muslim dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Perintah Pertama: Membaca
Menariknya, wahyu pertama yang diturunkan bukanlah perintah shalat, puasa, atau zakat, melainkan perintah membaca. Kata pertama yang turun adalah iqra’, yang berarti “bacalah”.
Hal ini menunjukkan bahwa membaca merupakan fondasi penting dalam pembangunan manusia dan peradaban. Perintah membaca dalam Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada membaca teks semata, tetapi juga membaca dan memahami berbagai tanda kebesaran Allah.
Para ulama sering membagi objek bacaan ini menjadi dua bentuk ayat. Pertama adalah ayat qauliyah, yaitu ayat-ayat Al-Qur’an yang tertulis dalam mushaf. Ayat-ayat ini dibaca, dipahami, dan direnungkan untuk mendapatkan petunjuk hidup.
Kedua adalah ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di alam semesta. Langit, bumi, pergantian siang dan malam, perjalanan sejarah manusia, serta berbagai fenomena kehidupan merupakan bagian dari ayat kauniyah yang mengajak manusia untuk berpikir dan merenung.
Ketika manusia membaca kedua jenis ayat ini secara bersamaan, lahirlah ilmu pengetahuan dan peradaban. Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam pernah melahirkan banyak ulama, ilmuwan, dan pemikir besar yang menjadikan membaca dan menelaah sebagai bagian dari kehidupan mereka.
Ramadan dan Renungan tentang Membaca Al-Qur’an
Bulan Ramadan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an. Pada bulan inilah umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak tilawah dan mendekatkan diri kepada kitab suci. Di samping itu, Ramadan juga menjadi momentum untuk melakukan refleksi. Sudahkah kita benar-benar menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan kita?
Pertanyaan ini penting untuk direnungkan:
Lebih jauh lagi, sudahkah nilai-nilai Al-Qur’an tercermin dalam sikap dan perilaku kita sehari-hari? Sebab tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dipahami dan diamalkan.
Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperbarui hubungan kita dengan Al-Qur’an. Tidak sekadar membaca dengan lisan, tetapi juga menghadirkan ayat-ayatnya dalam pikiran, hati, dan tindakan.
Pada akhirnya, pesan pertama Al-Qur’an, yaitu iqra’, bukan hanya seruan untuk membaca, tetapi juga ajakan untuk membangun peradaban yang berlandaskan ilmu dan pemahaman.
Ingatlah: peradaban yang besar tidak lahir dari kebisingan semata, tetapi dari pemikiran yang jernih. Ia tidak dibangun dengan kemarahan, tetapi dengan pencerahan. Dan pencerahan itu lahir dari kebiasaan membaca—membaca wahyu Allah, membaca ilmu pengetahuan, serta membaca tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta.
Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini