Mengawali Bulan Ramadan dengan Kesadaran Baru

Marhaban ya Ramadan, selamat datang bulan suci Ramadan. Bulan yang selalu dinanti-nanti oleh setiap insan yang beriman. Bulan yang dijanjikan Nabi sebagai bulan penuh kebaikan dan kemuliaan. Kemuliaan itu bisa dilihat dari perkatan Nabi tentang diampuninya dosa-dosa yang pernah dibuat seorang mukmin. Dengan catatan, puasanya dengan keikhlasan. 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa dibulan Ramadan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” (HR Bukhari dan Muslim).

Selayaknya ketika kita mengetahui bahwa ada “tamu agung” yang akan datang, kita tentu akan mempersiapakan segala hal untuk menyambutnya dengan sambutan yang meriah. Tamu agung itulah bulan Ramadan. Ia hanya datang sekali dalam setahun. Ia juga tidak datang sendirian, tetapi ia datang menjanjikan berbagai bonus untuk kita yang benar-benar menginginkan, mengharapkan, dan berusaha meraihnya. Malam lailatul qadar itulah bonusnya. 

Namun demikian, memang perlu diakui bahwa masih ada sebagian muslim yang tidak merasakan kemuliaan bulan Ramadahan ketika ia datang. Bisa jadi ini karena Ramadan sudah dianggap sebagai peristiwa tahunan yang akan berulang. Bagi mereka, bulan Ramadan tidak lain seperti sebelas bulan lainnya. Bedanya hanya di bulan ini mereka ikut “kegiatan tambahan”. Seperti nyekar sebelum datang dan berakhirnya Ramadan, atau menunggu waktu berbuka setelah seharian menahan haus dan lapar.

Bagi mereka yang berpikiran seperti ini, tentu masih termasuk bagian dari orang yang merugi karena menyia-nyiakan tamu istimewa itu. Secara aturan hukum Islam (baca: fikih) seorang mukmin sudah dianggap sah puasanya saat berniat di malam harinya, lalu berpuasa seharian sembari meninggalkan larangan-larangan berpuasa, kemudian berbuka saat azan maghrib tiba. 

Akan tetapi pesan agama yang diajarkan Nabi tidak hanya sebatas aturan hukum saja (sah dan tidak sah). Lebih dari itu, Nabi mengajarkan pentingnya menjaga dan meningkatkan kualitas keberagamaan kita, dalam hal ini melalui ibadah puasa. Sah-sah saja orang menjalankan puasa dengan tetap ngerasani tetangganya, mengutil uang temannya, berkata tidak sopan pada orang tuanya, atau bahkan berkelahi dengan orang lain. 

Puasa akan hilang maknanya bila dilihat dari kacamata fikih belaka. Puasa akan kering maknanya seperti tenggorokan kita yang tidak minum dan makan seharian. Sebaliknya, puasa akan penuh dengan kejutan-kejutan istimewa dari Tuhan ketika kita memaknainya dengan sikap yang selalu dicontohkan Nabi, yakni akhlakul karimah

Puasa dengan akhlakul karimah itu dapat dilakukan dengan mengurangi segala macam aktifitas yang bisa menggelincirkan kita pada dosa-dosa kecil yang sudah kita anggap biasa di bulan-bulan lainnya. Puasa dengan akhlakul karimah juga bisa dilakukan dengan melengkapi bulan Ramadan dengan menambah segala kebaikan yang sepertinya telah lama kita tinggalkan. Tidak harus dengan banyak-banyakan jumlah rakaat tarawih, tahajud, atau bahkan hatam al-Qur’an berapa kali selama sebulan ini. 

Akan tetapi juga bisa melalui perenungan yang mendalam tentang kesalahan apa saja yang telah kita perbuat. Apakah ada misalnya, hubungan kita dengan kerabat semakin merenggang, atau bahkan bermusuhan karena suatu sebab? Puasa sudah selayaknya tidak hanya membuat badan kita menjadi lemas, akan tetapi puasa juga diharapkan bisa melemaskan sikap egoisme yang kita dewakan selama ini. 

Momentum puasa Ramadan juga bisa mengingatkan betapa masih banyak orang yang mengalami kekurangan karena tidak punya cukup uang. Karena itu, bulan puasa menjadi ajang bagi mereka yang cukup untuk memberi sedekah mereka yang berkekurangan. Memberi tidak harus menunggu menjadi kaya raya, memberi cukup dengan kerentek hati bahwa apa yang kita punya memang titipan dari Tuhan yang perlu disukuri.

Bulan puasa seharusnya bisa membawa manusia pada kesadaran baru, bahwa kebiasaan-kebiasaan yang selama ini kita lalui membuat kita lupa pada jeritan nurani dan rohani kita. Bahwa ada saatnya diri kita membutuhkan waktu istirahat untuk memikirkan hal di luar kebiasaan kita. Karena itulah, mungkin sebagian dari kita pernah merasakan adanya kejenuhan dari segala aktifitas kita yang itu-itu saja. Terutama bagi pekerja kantoran atau pekerja pabrik yang waktu kesehariannya terasa monoton dan itu-itu saja. 

Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala memang Dzat yang menguasai segenap waktu yang dilalui manusia. Dia yang Maha Tahu kapan manusia harus berhenti sejenak, dan kapan harus melanjutkan segala aktifitasnya. Puasa Ramadan merupakan cara Tuhan untuk mengingatkan kita sebagai manusia ruhani.

Zaimul Asroor. M.A., Ustadz di Cariustadz.id

Tertarik mengundang ustadz Zaimul Asroor. M.A.? Silahkan klik disini