Ketika Kelompok Muhajirin Miskin Ingin Menyaingi  Ibadah Orang-Orang Kaya

Selama hidupnya, Rasulullah saw. menghadapi berbagai macam persoalan hidup umatnya. Banyak sahabat yang menghadap beliau dalam rangka bertanya, meminta nasihat dan wasiat, atau bahkan berkeluh kesah. 

Rasulullah saw., dengan wajahnya yang selalu tersenyum, dengan senang hati menjawab berbagai pertanyaan mau pun permintaan tersebut. Dengan melihat kondisi orang yang berada di hadapannya, beliau memberikan nasihat yang bijaksana. Tak heran jika kemudian ada beberapa orang yang meminta nasihat, tetapi dijawab beliau dengan nasihat yang berbeda. 

Ketika Ibnu Mas’ud bertanya mengenai ibadah apa yang paling utama, Nabi Muhammad menjawab, “Salat pada waktunya, lalu berbakti kepada kedua orang tua, kemudian berjihad di jalan Allah.” Sahabat lain bertanya tentang Islam (ibadah) mana yang paling baik. Jawaban Nabi adalah “memberi makan dan menyebarkan salam kepada orang lain.”

Bahkan, tidak jarang yang datang menghadap Nabi adalah sekelompok orang. Salah satunya adalah kelompok muhajirin yang tergolong miskin (fuqara`). Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, dikisahkan bahwa beberapa orang dari muhajirin berkata:

“Para ahlu al-dutsur (orang-orang kaya) memiliki kedudukan yang tinggi dan nikmat yang banyak. Mereka salat sebagaimana kami salat. Mereka berpuasa sebagaimana kami juga berpuasa. (Akan tetapi) mereka mempunyai kelebihan harta yang dengannya mereka dapat berhaji, umrah, berjihad, dan bersedekah.”

Rasulullah saw. pun bertanya:

Maukah kalian kuberitahu cara agar dapat menyusul orang-orang sebelum kalian, mendahului orang-orang sesudah kalian, dan tidak ada yang dapat mengungguli kalian kecuali mereka mengerjakan apa yang kalian kerjakan?”

Mereka pun menjawab:

“Tentu wahai Rasulullah.

Rasulullah saw. bersabda:

Setiap selesai salat wajib bertasbihlah 33 kali, bertahmidlah 33 kali, dan bertakbirlah 33 kali.

Hadis di atas menunjukkan bagaimana Rasulullah saw. adalah pribadi yang bijaksana. Beliau mengajarkan Islam yang tidak hanya berpihak pada sebagian orang. Bahwa bagaimana pun keadaan seorang muslim, kaya atau miskin, memiliki kesempatan yang sama dalam hal ibadah. 

Benar bahwa dengan kepemilikan harta seseorang dapat beribadah lebih banyak. Akan tetapi, Islam membuka kesempatan bagi setiap orang untuk beramal ibadah. Karenanya, Nabi Muhammad saw. mengajarkan bahwa ibadah-ibadah yang terkesan kecil sering kali dapat memberi ganjaran yang sama selama dilakukan secara istiqamah. 

Terkait hadis di atas, Imam al-Nawawi dalam kitab Syarh ‘ala Muslim (jil. 7, hal. 91)  mengingatkan bahwa setiap ucapan dan perbuatan baik, seperti tasbih, tahmid, takbir, dan amar makruf serta nahi munkar, terhitung sebagai sedekah. Sehingga, ucapan-ucapan yang diajarkan Nabi pada hadis di atas bernilai sama dengan sedekah dalam hal ganjaran (al-ajr). 

Senilai dalam hal ganjaran tentu tidak sama dengan melaksanakannya secara langsung. Sehingga, apa yang merupakan kewajiban, seperti berhaji, tidaklah gugur dengan zikir-zikir di atas. Seseorang yang memiliki istitha’ah (kemampuan) untuk menunaikan ibadah haji tetap diwajibkan berhaji kendati ia telah istiqamah mengamalkan hadis di atas. 

Imam al-Nawawi dalam kitab syarahnya atas Sahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dari hadis di atas bukanlah menyamakan semua jenis ibadah dari segala sisi, melainkan menyamakan ganjaran pada kondisi tertentu. Dzikir yang diajarkan Nabi Muhammad saw. setelah salat dapat menjadi jalan bagi kaum muslim yang tidak memiliki kelebihan harta untuk memperoleh pahala yang besar, sebagaimana pahala sedekah yang dilakukan orang-orang kaya. 

Dalam banyak hadis lainnya, Rasulullah saw. juga mengajarkan bahwa terdapat amal-amal yang ringan dikerjakan, tetapi besar pahalanya. Beliau, misalnya, bersabda bahwa mengucapkan subḥānallāhi wa biḥamdih seratus kali dalam sehari dapat menghapus dosa-dosa meskipun sebanyak buih di lautan. 

Dalam hadis lain disebutkan bahwa dua kalimat yang ringan di lisan, berat dalam timbangan amal, dan dicintai Allah adalah subḥānallāhi wa biḥamdih dan subḥānallāhil-‘aẓīm. Hal ini menunjukkan bahwa besarnya pahala suatu amalan tidak selalu diukur dari berat atau ringannya amalan tersebut menurut ukuran manusia.

Demikian pula, Nabi Muhammad saw. mengajarkan bahwa senyum kepada sesama merupakan sedekah, menyingkirkan gangguan dari jalan juga merupakan sedekah, bahkan setiap ucapan yang baik bernilai sedekah. 

Dengan demikian, seorang muslim yang tidak memiliki harta tetap memiliki banyak kesempatan untuk berlomba dalam kebaikan melalui amal-amal sederhana yang dilakukan secara ikhlas dan istiqamah. Prinsip ini menunjukkan keluasan rahmat Allah swt. yang membuka berbagai jalan menuju kebaikan bagi seluruh hamba-Nya.

Hadis tentang keluh kesah kaum Muhajirin yang miskin juga mengajarkan bahwa Islam tidak memandang kemuliaan seseorang semata-mata dari banyaknya harta atau besarnya kesempatan yang dimiliki. Ketika ada keterbatasan pada satu sisi, Allah membukakan pintu amal pada sisi yang lain. Yang menjadi ukuran utama bukanlah banyaknya sarana yang dimiliki, melainkan ketulusan hati, kesungguhan beribadah, dan konsistensi dalam mengamalkan kebaikan.

Oleh karena itu, hadis ini menjadi pengingat bahwa setiap muslim memiliki peluang yang sama untuk meraih kedekatan dengan Allah swt. Orang yang diberi kelapangan harta hendaknya memanfaatkannya untuk bersedekah dan membantu sesama. Adapun mereka yang memiliki keterbatasan tidak perlu berkecil hati, sebab masih banyak amal saleh lain yang dapat dikerjakan. 

Dengan menjalankan setiap kesempatan beribadah sesuai kemampuan masing-masing, setiap muslim dapat berlomba meraih derajat yang tinggi di sisi Allah swt.

Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini