Hutan bukan hanya hamparan pepohonan yang dapat dimanfaatkan manusia. Di dalamnya terdapat berbagai kehidupan yang saling bergantung, seperti tumbuhan, burung, serangga, mamalia, hingga sumber air dan tanah yang menopang kehidupan manusia. Karena itu, ketika hutan rusak, yang hilang bukan hanya pohon, tetapi juga sebuah ekosistem.
Namun, dalam praktiknya, hutan sering diperlakukan sebagai sumber daya yang dapat diambil sebanyak-banyaknya. Pembukaan perkebunan, pertanian, pertambangan, permukiman, dan berbagai kepentingan ekonomi lainnya dapat menyebabkan tutupan hutan semakin berkurang. Penggundulan dan pembakaran hutan bahkan tidak hanya menghilangkan pepohonan, tetapi juga menghancurkan habitat berbagai makhluk hidup.
Padahal, Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf (7): 56.
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.”
Larangan tersebut dapat menjadi dasar penting dalam melihat persoalan lingkungan. Kerusakan hutan tidak hanya persoalan teknis mengenai berkurangnya tutupan pohon, tetapi juga menyangkut bagaimana manusia menggunakan kekuasaannya terhadap alam.
Hutan dan Kehidupan yang Saling Terhubung
Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan tumbuh-tumbuhan sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Dalam QS. Taha (20): 53, Allah berfirman bahwa Dia menurunkan air dari langit dan dengan air tersebut menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan.
Keberagaman tumbuhan tersebut bukan sesuatu yang sia-sia. Setiap jenis tumbuhan memiliki fungsi dalam ekosistem. Pepohonan membantu menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, menjaga kelembapan, menyimpan air, serta melindungi tanah dari erosi. Hutan juga menjadi tempat hidup berbagai jenis hewan dan tumbuhan yang tidak ditemukan di tempat lain.
Karena itu, ketika satu kawasan hutan dihancurkan, dampaknya dapat menjalar ke berbagai bagian kehidupan. Berkurangnya pepohonan dapat mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air lebih mudah mengalir di permukaan dan meningkatkan risiko banjir serta longsor.
Kerusakan hutan juga menunjukkan bahwa manusia tidak hidup sendiri. Apa yang dilakukan terhadap alam pada akhirnya akan kembali memengaruhi kehidupan manusia.
Tidak Semua yang Bisa Diambil Harus Diambil
Islam memberikan batas dalam hubungan manusia dengan alam. Manusia memang diperbolehkan memanfaatkan sumber daya yang tersedia, tetapi pemanfaatan tersebut tidak boleh berubah menjadi tindakan yang merusak.
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2): 205 tentang orang yang berusaha membuat kerusakan di bumi, merusak tanaman dan hewan ternak. Ayat ini menunjukkan bahwa kerusakan terhadap kehidupan merupakan sesuatu yang harus dihindari.
Ayat tersebut relevan untuk mengingatkan bahwa ukuran pemanfaatan tidak semestinya hanya berdasarkan keuntungan manusia. Ada batas yang harus diperhatikan ketika sebuah kegiatan ekonomi mulai menghancurkan tanaman, hewan, tanah, air, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Dengan kata lain, tidak semua yang dapat diambil dari hutan harus diambil. Tidak semua kawasan yang dapat dibuka harus dibuka.
Menanam Pohon sebagai Bagian dari Amal
Selain melarang kerusakan, Islam juga memberikan penghargaan terhadap tindakan yang menjaga dan menumbuhkan kehidupan.
Rasulullah saw. bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman, lalu tanaman itu dimakan manusia, burung, atau hewan, kecuali menjadi sedekah baginya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini memperlihatkan bahwa manfaat sebuah tanaman tidak harus kembali kepada penanamnya secara langsung. Ketika burung memakan buahnya atau hewan mendapatkan manfaat darinya, tindakan menanam tersebut tetap bernilai sedekah.
Pesan ini penting dalam konteks lingkungan. Manusia tidak harus menjadi penerima manfaat satu-satunya dari alam. Membiarkan pohon tumbuh, menjaga habitat satwa, memelihara sumber air, dan mempertahankan keberagaman hayati juga merupakan bentuk memberikan ruang bagi kehidupan lain.
Namun, menjaga hutan tentu tidak cukup hanya dengan menanam pohon. Hutan alami memiliki ekosistem yang kompleks dan tidak selalu dapat digantikan dengan menanam pohon di tempat lain. Karena itu, upaya yang lebih penting adalah menjaga hutan yang masih ada sekaligus memulihkan kawasan yang telah mengalami kerusakan.
Hutan sebagai Amanah untuk Generasi Mendatang
Kerusakan hutan juga menyangkut kehidupan generasi yang belum lahir. Pohon yang ditebang hari ini mungkin menghasilkan keuntungan dalam waktu singkat, tetapi kerusakan ekologisnya dapat dirasakan selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Anak-anak di masa mendatang berhak mendapatkan udara yang bersih, air yang cukup, tanah yang sehat, dan lingkungan yang aman. Mereka juga berhak mengenal hutan bukan hanya melalui gambar atau cerita, tetapi sebagai ekosistem yang masih hidup. Karena itu, menjaga hutan dapat dipahami sebagai bentuk tanggung jawab antargenerasi. Kita tidak menerima bumi untuk dihabiskan, melainkan untuk dikelola dan diteruskan.
Ibnu Katsir ketika menafsirkan QS. Ar-Rum (30): 41 tentang kerusakan di darat dan laut menjelaskan bahwa kerusakan tersebut berkaitan dengan perbuatan manusia. Kerusakan menjadi akibat dari tindakan manusia sendiri, sekaligus menjadi peringatan agar manusia kembali kepada jalan yang benar.
Dan ketika satu pohon ditebang, yang hilang bukan hanya sebatang pohon. Bisa jadi di sana ada sarang yang kehilangan tempat, hewan yang kehilangan habitat, tanah yang kehilangan pelindung, dan generasi mendatang yang kehilangan bagian dari bumi yang seharusnya masih mereka nikmati.
Laily Nur Zakiya, S.Ag, M.Pd, Ustadzah di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadzah Laily Nur Zakiya, S.Ag, M.Pd? Silakan klik disini