Pagi hari adalah awal dari sebuah kesempatan. Ketika matahari mulai meninggi dan manusia kembali menjalani aktivitasnya, ternyata ada sebuah peristiwa yang tidak selalu kita sadari: dua malaikat turun dengan membawa doa yang berkaitan dengan bagaimana manusia memperlakukan hartanya.
Ada yang didoakan agar mendapatkan pengganti kebaikan karena gemar berinfak, sementara ada pula yang didoakan agar mengalami kebinasaan karena memilih menahan hartanya.
Rasulullah saw. bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Tidaklah para hamba memasuki waktu pagi pada suatu hari, kecuali dua malaikat turun. Salah seorang dari keduanya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan kepada orang yang menahan (hartanya).’” (HR. Muslim).
Imam al-Nawawi dalam kitab Syarh ‘ala Muslim-nya (jil. 7, hal. 95) menerangkan bahwa infak yang dimaksud adalah infak dalam ketaatan dan kebaikan, seperti mengeluarkan harta untuk tanggungan wajibnya, memberi tetangga, sedekah, dan lainnya. Sedangkan mumsik yang tercela adalah orang-orang yang menahan hartanya dari sikap-sikap di atas.
Hadis ini menghadirkan sebuah renungan yang kuat. Setiap pagi, manusia seakan berada di hadapan dua pilihan: menjadi orang yang tangannya terbuka untuk kebaikan atau menjadi orang yang terlalu menggenggam apa yang dimilikinya.
Doa Malaikat untuk Orang yang Gemar Berinfak
Doa malaikat pertama sangat singkat: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak.”
Kata khalaf mengandung makna pengganti. Ini menunjukkan bahwa harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang hilang. Secara kasat mata, seseorang memang mengeluarkan sebagian hartanya. Namun, di sisi Allah, pengeluaran tersebut dapat menjadi sebab datangnya pengganti dan keberkahan.
Karena itu, persoalan utama dalam sedekah bukan semata-mata berapa banyak yang dikeluarkan, melainkan apakah seseorang memiliki keyakinan bahwa apa yang ia keluarkan tidak sia-sia di hadapan Allah.
Allah Swt. juga menegaskan:
“Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Saba’ [34]: 39).
Dengan demikian, sedekah bukan sekadar aktivitas sosial. Ia merupakan bentuk keimanan terhadap janji Allah. Orang yang bersedekah sedang belajar melepaskan sebagian kepemilikannya dengan keyakinan bahwa rezeki sejatinya berada di tangan Allah.
Mengapa Doa Kedua Berisi Kebinasaan?
Jika malaikat pertama mendoakan khalaf bagi orang yang berinfak, malaikat kedua mendoakan talf bagi orang yang menahan harta. Kata mumsik dalam hadis merujuk kepada orang yang menahan harta, khususnya dari kewajiban atau kebaikan yang semestinya ia tunaikan.
Hadis ini tentu bukan berarti setiap orang yang menyimpan uang untuk kebutuhan hidup otomatis mendapatkan doa kebinasaan. Islam tidak melarang seseorang memiliki harta, menabung, atau mempersiapkan kebutuhan masa depan.
Dalam kitab al-Diibaaj ‘ala Shahih Muslim (jil. 3, hal. 82), Imam al-Suyuthi mengutip pendapat Imam al-Qurthubi yang menjelaskan bahwa mumsik dalam hadis di atas adalah orang yang menahan hartanya dari nafkah yang wajib. Sehingga, ketika seseorang tidak mengeluarkan hartanya untuk hal yang hukumnya sunah, ia tidak termasuk ke dalam golongan orang yang didoakan binasa oleh malaikat.
Yang menjadi persoalan adalah ketika kecintaan kepada harta membuat seseorang enggan mengeluarkan hak Allah dan hak sesama manusia, padahal ia memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Al-Qur’an bahkan memberikan gambaran yang sangat luas tentang orang-orang yang berinfak:
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya pada malam dan siang hari, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. al-Baqarah [2]: 274).
Ayat ini sekaligus menunjukkan bahwa infak tidak dibatasi pada waktu tertentu. Malam dan siang sama-sama menjadi kesempatan untuk berbuat baik.
Mengapa Waktu Pagi Memiliki Keistimewaan?
Hadis tentang dua malaikat tersebut secara khusus menyebut “yushbihu”, yakni ketika manusia memasuki waktu pagi. Ini menunjukkan adanya perhatian khusus terhadap awal hari. Nabi Muhammad saw. pernah berdoa:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi mereka.”
Para ulama menjelaskan bukur sebagai awal atau permulaan hari. Karena itu, pagi bukan sekadar pergantian waktu, tetapi momentum untuk memulai aktivitas dengan keberkahan. Sehingga, banyak ibadah sunah dilaksanakan pada waktu ini: salat isyraq, dhuha, hingga zikir-zikir khusus pagi hari.
Dari sini kita dapat memahami bahwa seorang muslim seyogianya tidak membiarkan pagi berlalu tanpa makna. Setelah menunaikan kewajiban dan ibadah, pagi dapat diisi dengan bekerja, belajar, membantu orang lain, bersedekah, atau merencanakan berbagai kebaikan. Keberkahan pagi bukan berarti setiap orang yang bangun pagi pasti mendapatkan kekayaan, tetapi terdapat dorongan Nabi agar umatnya memanfaatkan awal hari secara produktif dan baik.
Namun, Sedekah Tidak Harus Menunggu Pagi
Meskipun hadis tentang dua malaikat dikaitkan dengan waktu pagi, bukan berarti sedekah hanya bernilai jika dilakukan pada pagi hari. QS. al-Baqarah ayat 274 justru menggunakan ungkapan “pada malam dan siang hari” untuk menunjukkan keluasan kesempatan berinfak. Para mufasir juga menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan tidak adanya waktu khusus yang membatasi sedekah; yang terpenting adalah keikhlasan dan cara yang baik dalam mengeluarkannya.
Maka, pagi adalah momentum, bukan batasan. Jika seseorang melihat orang yang membutuhkan pada siang hari, bantulah. Jika kesempatan berinfak datang pada sore atau malam hari, jangan ditunda tanpa alasan. Sebab, kebaikan tidak seharusnya menunggu waktu tertentu.
Pada akhirnya, hadis tentang dua malaikat pagi mengajarkan bahwa harta bukan hanya perkara berapa banyak yang kita miliki, tetapi juga ke mana ia kita arahkan. Setiap pagi, ketika manusia sibuk memikirkan bagaimana mendapatkan rezeki, ada doa malaikat yang mengingatkan bahwa keberkahan rezeki juga berkaitan dengan bagaimana kita membelanjakannya.
Di antara tangan yang memberi dan tangan yang menggenggam, terdapat dua doa malaikat yang berbeda. Yang satu memohonkan pengganti, sementara yang lain memohonkan kebinasaan.
Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini