Kemanusiaan itu Abadi

“Semua Manusia itu pasti mati, tapi tidak semua manusia bisa memberi arti”. Kalimat ini tidak sekadar ungkapan reflektif, melainkan pengingat kepada kita bahwa kematian adalah kepastian biologis, sebuah garis takdir yang tak seorang pun dapat terelakkan. Dalam terminologi biologi, manusia hanyalah organisme yang mengalami siklus hidup yakni lahir, tumbuh, menua, lalu berhenti. Sementara, nilai kemanusiaannya dapat melampaui batas kematian itu sendiri. 

Dalam perspektif Al-Qur’an, kematian bukanlah akhir dari eksistensi, melainkan pintu menuju pertanggungjawaban atas apa yang telah dihadirkan selama hidup di dunia. Allah Swt. berfirman:

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 185)

Kemanusiaan itu abadi pada hakikatnya bukan berarti manusia tidak mengalami kematian biologis, melainkan bahwa eksistensi kemanusiaan manusia tidak berhenti sebatas kematian jasad. Al-Qur’an memandang manusia tidak sekadar tubuh material, melainkan makhluk ruhani yang berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Karena itu, kematian dalam Islam tidaklah didefinisikan sebagai “kehancuran total”, melainkan perpindahan dimensi kehidupan. 

Kembali bukan Mati

“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn”, Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali” (QS. Al-Baqarah [2]: 156)

Ayat ini sangat filosofis. Al-Qur’an tidak mengatakan “kami lenyap” atau “kami selesai”, melainkan “kami kembali”. Kata raji‘ūn berasal dari akar kata raja‘a yang berarti kembali menuju asal. Artinya, manusia pada dasarnya merupakan makhluk transenden yang berasal dari Allah dan akan kembali kepada sumber keberadaannya. Maka kematian hanyalah perubahan keadaan (taghayyur al-halah), bukan ketiadaan mutlak atau akhir dari segalanya.

Dalam perspektif tafsir sufistik, kehidupan dunia hanyalah satu fase perjalanan ruh. Tubuh biologis pasti mengalami kerusakan merupakan sebuah keniscayaan. Namun, ruh manusia tetap abadi di sisi Allah dan di sisi manusia. Karena itu Al-Qur’an melarang manusia menganggap orang-orang tertentu – lebih-lebih adalah kekasih Allah – benar-benar mati. Allah berfirman:

وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتٌ ۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ وَّلٰكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ

“Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah bahwa mereka mati; bahkan mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 154)

Ayat ini menunjukkan bahwa kematian menurut Al-Qur’an tidak sesederhana perspektif biologis modern. Secara kasat mata jasad memang berhenti bernapas, tetapi eksistensi manusia tetap berlanjut dalam dimensi lain yang tidak seluruhnya dapat dijangkau indera manusia. Karena itu, Islam memandang hidup sebagai kesinambungan eksistensi, bukan garis putus.

Kekal, Abadi Selamanya

Lebih jauh lagi, Al-Qur’an menggambarkan bahwa orang-orang beriman yang beramal saleh akan memperoleh kehidupan abadi:

“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 8)

Frasa khālidīna fīhā abadan (“mereka kekal di dalamnya selama-lamanya”) menegaskan bahwa tujuan akhir manusia bukan kefanaan, tetapi keabadian. Kesadaran akan kefanaan semestinya tidak menimbulkan keputusasaan, melainkan melahirkan keberanian bagi kita untuk menghadirkan nilai, entah melalui sebuah karya, akhlak, pengetahuan, legasi atau sekadar jejak kebaikan yang diwariskan. 

Bagi manusia yang mengetahui akan dirinya yang sejati bahwa kebahagiaan yang paling mendalam adalah tidak sekadar kepuasan hedonis, melainkan eudaimonia—hidup yang selaras dengan tujuan, kebaikan, dan kontribusi nyata. Seorang ibu yang menanam kasih pada anaknya, seorang guru yang menyalakan api pengetahuan, bahkan seorang pejalan sunyi yang menanam pohon untuk generasi mendatang—semuanya memberi arti, meski dunia mungkin tak mengenal namanya.

Kelangsungan Hidup

Jadi, sesungguhnya tidak ada “kematian” bagi manusia itu sendiri. Secara biologis seseorang memang meninggal, tetapi ia meninggalkan generasi penerus. Anak tidak sekadar keturunan biologis, melainkan perpanjangan eksistensi orang tuanya. Dalam diri anak mengalir darah, nilai, ingatan, pendidikan, bahkan cita-cita orang tua. Karena itu, manusia sesungguhnya hidup melalui warisan kemanusiaannya.

Al-Qur’an sendiri menaruh perhatian besar pada kesinambungan generasi. Doa-doa para nabi tidak hanya meminta keselamatan pribadi, akan tetapi juga keberlanjutan keturunan yang saleh. Nabi Ibrahim a.s. misalnya berdoa:

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

(Ibrahim berdoa,) “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang termasuk orang-orang saleh.”(QS. Ash-Shaffat [37]: 100)

Ini menunjukkan bahwa secara fitrah, manusia ingin menghadirkan keberlanjutan dirinya melalui generasi berikutnya. Anak merupakan bentuk “kehidupan baru” dari orang tuanya; lebih muda, lebih kontekstual, bahkan lebih “update” menghadapi zamannya. Maka kematian biologis tidak menghentikan pengaruh seseorang terhadap sejarah kehidupan.

Dalam tradisi Islam, warisan kemanusiaan yang paling abadi adalah amal yang terus mengalir meskipun seseorang telah wafat. Nabi Muhammad saw. bersabda:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini memperlihatkan bahwa Islam mengajarkan konsep keabadian makna. Tubuh manusia memang akan kembali menjadi tanah, tetapi nilai kebaikannya terus hidup menembus zaman, abadi selamanya. Guru yang mendidik dengan tulus akan tetap hidup dalam diri murid-muridnya. Seorang ayah dan ibu tetap hidup dalam akhlak anak-anaknya. Ulama tetap hidup dalam karya dan nasihatnya. Bahkan seorang sederhana pun tetap hidup dan abadi melalui ketulusan amalnya.

Karena itu, manusia tidak cukup hanya hidup untuk dirinya sendiri. Kehidupan yang hanya berpusat pada materi, jabatan, dan kepentingan pribadi pada akhirnya akan sirna-lenyap bersama kematian biologisnya. Namun kehidupan yang didedikasikan untuk kemanusiaan akan melampaui usia. Al-Qur’an menegaskan:

 وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ 

“Dan berbuat baiklah, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashash [28]: 77)

Kebaikan adalah bentuk paling nyata dari kebermaknaan hidup. Manusia bertahan tidak hanya karena ia hidup, melainkan karena ia menemukan makna dalam hidupnya. Sebab pada akhirnya, manusia tidak dikenang seberapa lama ia hidup, melainkan seberapa besar manfaat yang ditinggalkan. Tubuh boleh mati, tetapi kemanusiaan yang dibangun dengan cinta, ilmu, dan amal saleh akan terus hidup. Inilah makna terdalam bahwa kemanusiaan itu abadi.

Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini