Kita sering berasumsi bahwa ibadah dan maksiat itu netral. Semua amal bernilai sama, kapan pun dilakukan dan di mana pun dikerjakan. Padahal, dalam Islam, amal tidak pernah benar-benar netral. Nilainya dinamis. Ia bisa naik atau turun, bukan hanya karena niat, tetapi juga karena waktu dan tempat.
Islam mengajarkan bahwa ada waktu yang dimuliakan dan ada tempat yang disucikan. Dan ketika Allah serta Rasul-Nya memuliakan waktu atau tempat tertentu, maka nilai amal yang dilakukan di dalamnya pun ikut berubah. Terjadi sebuah multiplier effect disitu.
Rasulullah SAW, misalnya, menyebut bahwa satu kali shalat di Masjid Nabawi lebih utama daripada seribu shalat di masjid lain, dan shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di tempat selainnya (HR. Ibnu Majah no. 1406). Padahal jika dilihat secara kasat mata, semuanya sama: rakaatnya sama, gerakannya sama, bacaan Al-Fatihahnya sama. Yang membedakan hanyalah tempat. Namun perbedaan tempat itu cukup untuk membuat bobot amal melonjak berkali-kali lipat.
Hal serupa juga berlaku pada waktu. Nabi SAW menyebut sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sebagai hari-hari di mana amal saleh paling dicintai Allah (HR. Bukhari, no. 969). Hari Jumat disebut sebagai sebaik-baik hari yang pernah terbit matahari (HR. Muslim, no. 854). Dan tentang satu malam tertentu, yang Allah tegaskan sendiri bahwa nilainya lebih baik daripada seribu bulan: Lailatul Qadr khairun min alfi syahr.
Maka amalan kita itu memiliki momentum. Ada waktu-waktu ketika amal kecil bernilai besar, dan ada momen tertentu ketika amalan yang biasa berubah menjadi luar biasa.
Bulan Sya’ban Sebagai Bulan yang “Biasa”?
Bulan Sya’ban boleh jadi bukan salah satu dari waktu yang punya momentum multiplikasi pahala seperti Ramadhan. Itu sebabnya Nabi SAW juga pernah bersabda:
.. شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ،
Sya‘ban adalah bulan yang banyak dilalaikan manusia, padahal di bulan itulah amal-amal diangkat dan dilaporkan kepada Allah, Tuhan semesta alam (HR. an-Nasa’I no. 2357).
Sya‘ban dilalaikan barangkali karena ia bulan transisi. Ia bukan bulan “utama” yang populer, tapi pintu masuk kepada bulan yang paling mulia, bulannya pelipatgandaan pahala, yaitu Ramadhan.
Masalahnya, kita sering mendambakan hasil instan. Setiap menjelang Ramadan, harapan kita tiba-tiba membubung tinggi. Kita ingin hari pertama Ramadan langsung rajin tadarus, ringan bangun shalat malam, sabar, khusyuk, dan penuh kontrol diri.
Padahal kalau boleh jujur, di kolong langit ini, hampir tidak ada orang yang tiba-tiba berubah jadi baik, hanya karena bulan di kalender berubah. Dalam urusan apa pun, pembiasaan selalu menjadi kunci.
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip “pembiasaan” ini sangat kita pahami. Ambil contoh resolusi hidup sehat di awal tahun. Setiap Januari, pusat kebugaran dan gym hampir selalu dipenuhi pendaftar baru. Semangatnya sama: new year, new me.
Tapi “studi lapangan” sederhana menunjukkan bahwa banyak dari mereka menghilang hanya dalam hitungan minggu. Bukan karena niatnya buruk, melainkan karena sebelumnya mereka tidak dibiasakan.
Andai sebelum mendaftar gym mereka sudah terbiasa olahraga ringan di rumah, meski hanya sepuluh menit sehari— barangkali retensi mereka lebih kuat dan peluang untuk istiqamah jauh lebih besar.
Di situlah letak analogi Sya‘ban.
Sya‘ban memang bukan panggung utama, melainkan ruang latihan. Bulan ini memberi kita kesempatan untuk mulai membiasakan diri: mengurangi hal-hal yang kurang bermanfaat, meninggalkan dosa-dosa yang selama ini dianggap kecil, dan mulai mencicil amal-amal baik yang ingin kita jaga konsistensinya di bulan Ramadan.
Karena itu, barangkali kita perlu lebih realistis terhadap harapan-harapan spiritual kita. Jangan menaruh ekspektasi yang terlalu muluk terhadap Ramadan jika di bulan Sya‘ban ini kita belum mulai berubah sedikit pun. Jangan bermimpi tentang ampunan besar—ghufira lahu ma taqaddama min dzanbih—jika sampai hari ini kita masih enggan meninggalkan hal-hal yang jelas-jelas melalaikan.
Mungkin itulah sebabnya Rasulullah SAW memberi perhatian khusus pada bulan yang sering kita anggap “biasa” ini. Seakan beliau bertanya: apakah kita hanya bersemangat pada momen besar, ataukah kita mau menyiapkan diri dengan sabar, pelan-pelan, sebelum pintu-pintu langit benar-benar dibuka lebar di bulan Ramadan nanti.
Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag, Ustadz di Cariustadz.id
Tertarik mengundang Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag? Silakan klik disini