Digital Detoks Ala Nabi: Merajut Kebersamaan Keluarga

Digital Detoks adalah upaya disengaja untuk mengurangi atau bahkan menghentikan penggunaan perangkat digital atau media sosial dalam jangka waktu tertentu. Banyak orang melaporkan bahwa detoks ini membantu mereka mengatasi kecanduan teknologi dan mengurangi tekanan yang disebabkan oleh kehidupan digital. Bahkan dampak Digital Detoks terhadap depresi, stres, kepuasan hidup, dan kesejahteraan mental sangat efektif menurut penelitian yang dilakukan oleh tim dari berbagai universitas di Indonesia dan Amerika Serikat.

Salah satu bukti penelitian dari Psikolog Career and Student Development Center Unit (CSDU), Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Anisa Yuliandri, S.Psi., M.Psi., Psikolog., menyampaikan digital detox bisa menjadi salah satu alternatif solusi untuk mengurangi dampak negatif akibat penggunaan perangkat digital secara berlebihan. Digital detox dilakukan dengan menahan diri dari penggunaan perangkat elektronik sebagai upaya untuk mengurangi stres atau fokus pada interaksi sosial di dunia nyata.

Dalam perspektif Islam, Nabi Muhammad Saw memberikan sebuah tips yang relevan dan efektif: meluangkan waktu bersama keluarga. Aktivitas ini tidak hanya memperkuat ikatan emosional, tetapi juga berpotensi signifikan dalam menurunkan gejala depresi. Di sisi Nabi Muhammad sebagai rasul, ia hadir sebagai seorang kakek yang penuh kasih, yang meluangkan waktu untuk bermain, mencium, dan mendidik cucu-cucunya. Praktik ini dapat kita maknai sebagai bentuk digital detox dalam perspektif Islam, yaitu mengalihkan perhatian dari distraksi dunia luar untuk menghadirkan kehangatan, kasih sayang, dan kebersamaan bersama keluarga.

Dalam ilmu tasawuf, konsep digital detox juga sejalan dengan ajaran untuk menjaga diri dari hal sia-sia (laghw) dan mengutamakan interaksi yang bermanfaat. Nabi Muhammad Saw mencontohkan pentingnya kebersamaan dengan keluarga, anak, dan cucu, yang bisa kita maknai sebagai bentuk detoks dari distraksi dunia luar. Salah satunya yaitu mengurangi screen time. Terlebih memasuki akhir tahun, berkumpul dengan keluarga sangatlah asyik jika tidak terkontaminasi dengan layar gadget.

Beberapa riwayat menunjukkan betapa Nabi Saw menekankan pentingnya kasih sayang dan kebersamaan dengan anak-cucu. Berikut dua redaksi Hadis populer yang menggambarkan kasih sayang Nabi pada anak dan cucunya. 

Pertama, Nabi menasihati Aqra’ bin Habis At-Tamimi tentang makna kasih sayang. 

عَنْ أبي هريرة – رضي الله عنه – : قال : «قَبَّلَ رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- الحسنَ بنَ عَليٍّ ، وعنده الأقْرَعُ بنُ حابس التميميُّ ، فقال الأقرعُ : إِن لي عَشْرة من الوَلَد ما قَبَّلْتُ منهم أحدا ، فنظر إِليهِ رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- ثم قالَ : مَن لا يَرْحَمْ لا يُرْحَمْ».أَخرجه البخاري، ومسلم، والترمذي، وأبو داود

Artinya, “Dari sahabat Abu Hurairah ra, ia bercerita, Rasulullah saw mencium cucunya, Hasan bin Ali ra. Di dekatnya ada Aqra‘ bin Habis At-Tamimi. Aqra‘ merespons, ‘Aku memiliki 10 anak. Tidak satupun pernah kucium.’ Rasulullah saw mengalihkan pandangan kepadanya, ‘Siapa yang tidak menyayangi tidak akan diberi kasih sayang,'” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi

Kedua, Sayyidatina Aisyah ra mengisahkan seorang Badui yang datang menemui Rasulullah saw yang menanyakan tradisi cium anak dan cucu sebagai ekspresi kasih sayang orang tua.

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ ؟ فَمَا نُقَبِّلُهُمْ . فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَوَ أَمْلِكُ لَكَ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ نَزَعَ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ

Artinya, “Dari Sayyidah Aisyah ra, ia bercerita, seorang Arab badui suatu hari datang menemui Rasulullah saw. Ia berkata, ‘Kalian mencium anak-anak? Kami tidak mencium mereka.’ Rasulullah menjawab, ‘Apakah aku berkuasa atas dirimu kalau Allah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu,'” (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan begitu, digital detox bukan sekadar tren kesehatan modern, melainkan bagian dari sunnah kehidupan: menjaga hati dari distraksi, memperkuat ikatan keluarga, dan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan meneladani Nabi Saw, kita dapat menjadikan setiap momen bersama anak dan cucu sebagai ibadah yang penuh makna. Wallohu A’lam Bishawab.

Rifa Tsamrotus Saadah,S.Ag, Lc, MA., Dosen STIU Darul Quran Bogor dan Ustadzah di Cari Ustadz

Tertarik mengundang ustadz Rifa Tsamrotus Saadah,S.Ag, Lc, MA.? Silahkan klik disini