Pasca Iduladha: Internalisasi Nilai-Nilai Kurban

Hari-hari Iduladha telah berlalu. Takbir yang menggema telah berhenti, hewan-hewan kurban telah disembelih, dan daging kurban telah dibagikan kepada masyarakat. Namun, makna yang terkandung dalam ibadah kurban tidak ikut berakhir bersama berlalunya waktu.

Islam tidak mengajarkan umatnya berhenti pada formalitas ibadah semata. Setiap syariat memiliki tujuan dan hikmah yang hendak diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pula dengan ibadah kurban. Penyembelihan hewan kurban merupakan simbol ketaatan, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat membentuk karakter seorang muslim.

Allah Swt. berfirman:

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu…” (QS. Al-Hajj [22]: 37)

Ayat ini menegaskan bahwa esensi kurban bukan terletak pada darah atau daging yang dipersembahkan, melainkan pada ketakwaan yang tumbuh dalam diri pelakunya. Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsiir al-Qur’an al-‘Azhiim menjelaskan bahwa Allah Swt. menerima keikhlasan dan ketakwaan hamba-Nya, bukan semata-mata bentuk lahiriah ibadah tersebut.

Karena itu, semangat Iduladha tidak boleh berhenti pada pelaksanaan ritual yang dibatasi waktu. Nilai-nilai kurban harus terus hidup dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Di antara nilai yang penting untuk diinternalisasikan adalah kemampuan mengikis egoisme diri dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Mengikis Egoisme Diri

Salah satu pelajaran terbesar dari ibadah kurban adalah kemampuan mengendalikan egoisme diri. Ketika seorang muslim rela mengeluarkan sebagian hartanya untuk melaksanakan perintah Allah Swt., sesungguhnya ia sedang belajar menempatkan kehendak Allah Swt. di atas kepentingan pribadinya.

Manusia secara fitrah mencintai dirinya, keluarganya, dan hartanya. Namun, Islam mengajarkan agar kecintaan tersebut tidak mengalahkan kecintaan kepada Allah Swt. Teladan terbaik dalam hal ini adalah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. Ketika Allah memerintahkan penyembelihan Ismail, keduanya menunjukkan kepatuhan yang luar biasa.

Allah Swt. mengabadikan jawaban Nabi Ismail:

قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 102)

Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala bentuk kecintaan lainnya. Allah juga mengingatkan:

Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan rumah-rumah yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah [9]: 24)

Dalam kehidupan sehari-hari, egoisme dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti sikap terlalu mementingkan diri sendiri, enggan berbagi, atau menjadikan harta sebagai tujuan utama hidup. Ibadah kurban mengajarkan bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan Allah. Seorang muslim tidak boleh menjadi hamba bagi hartanya, melainkan menjadikan harta sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kepedulian terhadap Sesama

Nilai kurban tidak hanya berkaitan dengan hubungan seorang hamba kepada Allah, tetapi juga dengan hubungannya kepada sesama manusia. Setelah belajar mengendalikan egoisme, seorang muslim didorong untuk menumbuhkan kepedulian sosial.

Allah Swt. berfirman:

Maka makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya dan orang yang meminta.” (QS. Al-Hajj [22]: 36)

Ayat ini menunjukkan bahwa syariat kurban mengandung pesan berbagi dan solidaritas. Daging kurban tidak hanya dinikmati oleh orang yang berkurban, tetapi juga dibagikan kepada masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan.

Melalui kurban, Islam mengajarkan bahwa dalam setiap harta yang dimiliki terdapat hak orang lain. Kehadiran fakir miskin dan kaum duafa bukan untuk diabaikan, melainkan untuk diperhatikan. Dengan berbagi, seseorang tidak hanya membantu sesama, tetapi juga membersihkan dirinya dari sifat kikir dan individualistis.

Rasulullah Saw. bersabda:

 لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam al-Nawawi memasukkan hadis ini ke dalam kitab hadisnya yang terkenal, al-Arba’un al-Nawawiyyah. Ini menunjukkan bahwa bagi beliau hadis ini merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis. Seorang muslim yang baik tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga berusaha memberikan manfaat bagi orang lain.

Karena itu, semangat berbagi yang tumbuh pada Iduladha seharusnya tidak berhenti setelah pembagian daging kurban selesai. Nilai tersebut perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui berbagai bentuk kepedulian, seperti membantu tetangga yang kesulitan, menyantuni anak yatim, mendukung kegiatan sosial, dan memberikan manfaat kepada masyarakat sesuai kemampuan masing-masing.

Akhirnya, iduladha bukan sekadar ritual tahunan yang ditandai dengan penyembelihan hewan kurban. Di balik syariat tersebut terdapat nilai-nilai yang harus terus hidup dalam diri setiap muslim. Kurban mengajarkan pentingnya mengendalikan egoisme, mendahulukan ketaatan kepada Allah, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Oleh karena itu, berakhirnya Iduladha tidak seharusnya menjadi akhir dari semangat berkurban. Justru setelah hari raya usai, dimulailah proses yang lebih panjang, yaitu menginternalisasikan nilai-nilai kurban dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab, yang dikehendaki Allah bukan hanya terlaksananya ritual pada waktu tertentu, melainkan lahirnya pribadi-pribadi yang bertakwa, peduli, dan senantiasa menempatkan Allah di atas segala-galanya.

Jika setelah Iduladha seorang muslim menjadi lebih dekat kepada Allah, lebih mampu menundukkan ego dirinya, dan lebih peduli terhadap sesama, maka nilai-nilai kurban benar-benar telah hidup dalam dirinya. Itulah hakikat kurban yang sesungguhnya.

Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini