Apa yang Dimaksud dengan Shaf Salat yang Lurus dan Rapat?

Sebelum melakukan shalat berjamaah, imam meminta makmumnya untuk meluruskan dan merapatkan shafnya. Apa yang dimaksud shaf yang lurus dan rapat ini? Apakah sesuai dengan hadits Imam Bukhari yang menyatakan bahwa tumit dan bahu harus saling menempel? Lalu apa yang terjadi jika shaf renggang (bahu dan tumit tidak saling menempel)? Adakah sanksi dari Allah terkait dengan pelaksanaan jamaah yang seperti ini? Karena saat ini sulit sekali untuk berjamaah dengan cara seperti itu. Rata-rata orang akan menghindari jika saya ingin merapatkan kaki saya.

[Dimas Muchammad Fajar via formulir pertanyaan]

Jawab:
Meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat berjamaah adalah bagian dari tata tertib shalat supaya lebih sempurna. Tertib shalat jamaah seperti ini mencerminkan persaudaraan yang erat sesama Muslim. Dalam beberapa hadist memang disebutkan bahwa jika di antara shaf ada yang renggang, itu memberikan kelonggaran bagi setan.

Meskipun demikian, dalam keadaan tertentu, seringkali kita tak bisa menempelkan tumit dan bahu saling menempel karena berbagai alasan. Salah satunya, mungkin orang yang di sebelah Anda ingin lebih khusyuk dan nyaman dalam menjalankan shalat. Namun alangkah baiknya jika Anda memberi tahu pentingnya shaf pada siapa saja yang akan melakukan berjamaah, dengan berpegang pada hadist Rasulullah. Beliau pernah bersabda: “Barangsiapa menyambung shaff, maka Allah akan sambung dia; namun barangsiapa yang memutuskan shaff, maka Allah akan putuskan dia (akan rahmat-Nya).” (HR. Abu Daud).

Hadist tersebut sebagai peringatan agar orang yang menjalankan shalat berjamaah harus memperhatikan kerapihan dan kesejajaran. Sebab hal ini mencerminkan dimensi ritual kepada Allah (kesungguhan menyembah-Nya) dan dimensi sosial (kebersamaan, kedekatan, dan silaturahmi). Seandainya Anda tidak memenuhi peringatan tentang shaf tadi, shalat Anda tetap sah tapi belum disebut sempurna.

[A.Wahib Mu’thi, Dewan Pakar Pusat Studi Al-Quran]