Tanya Jawab Ustadz


1. Hukum terlambat sholat shubuh?

Dijawab oleh : Ustadz Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA

Pada dasarnya, kewajiban seseorang gugur antara lain apabila dia dalam keadaan tidur, lupa, atau terpaksa. Akan tetapi ini tidak menjadi kemudahan seseorang untuk menyepelekan kewajiban sholat shubuh. Oleh sebab itu, berusaha dengan melalui bantuan alarm atau orang lain untuk membangunkannya. Namun jika sudah dilakukan, dan masih belum berhasil, maka ketika bangun dari tidurnya, ia wajib untuk langsung melaksanakan sholat sebagaimana hadits Nabi, “Shalat shubuhlah segera setelah engkau bangun.”


2. Apa itu puasa daud?

Dijawab oleh : Ustadz Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA

Puasa Daud adalah puasa yang dilakukan oleh Nabi Daud dengan puasa selang sehari dengan sehari berpuasa dan sehari berbuka. Puasa Daud merupakan puasa sunnah yang sangat dianjurkan dilakukan oleh Nabu Muhammad sebagaimana sabda Nabi “Tidak ada puasa melebihi puasa Daud, yang sama dengan setengah dari dahr (sepanjang masa), yakni sehari berpuasa dan sehari berbuka.”


3. Bagaimana mengganti puasa Ramadhan yang sudah berlalu sampai datang Ramadhan lagi?

Dijawab oleh : Ustadz Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA

Kewajiban mengganti puasanya, pada hakikatnya wajib dilaksanakan sebelum datang Ramadhan kembali. Apabila seseorang berhalangan untuk mengganti karena sakit atau uzur yang syar’i, maka puasa yang ditinggalkan ditambah dengan membayar fidyah berupa memberi makan fakir miskin.


4. Apakah berbohong membatalkan puasa?

Dijawab oleh : Ustadz Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA

Berbohong tidaklah membatalkan puasa, akan tetapi dapat mengurangi atau membatalkan pahala puasa. Oleh sebab itu, jika tidak karena terpaksa, berbohong sebaiknya tidak dilakukan baik dalam keadaan puasa ataupun dalam keadaan berbuka.


5. Bolehkah menyentuh/membawa Al-Quran bagi perempuan menstruasi?

Dijawab oleh : Ustadz Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA

Salah satu hadits Nabi saw. yang dijadikan dasar ketidakbolehan ini adalah “Janganlah Al-Quran dipegang kecuali oleh yang suci” (HR. Malik melalui Hamzah). Dari hadits ini, mayoritas ulama’ berpendapat bahwa menyentuh Al-Quran haruslah dalam keadaan suci sebagaimana hadis nabi. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hadis di atas berisi anjuran, bukan larangan sehingga boleh bagi yang sedang menstruasi menyentuh atau membawa Al-Qur’an, tetapi tidak dengan Imam Syafi’i.


6. Apakah menahan buang angin membatalkan shalat?

Dijawab oleh : Ustadz Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya melalui istri Nabi, ‘Aisyah ra., bahwa dia mendengar Nabi saw. bersabda, “Tidak ada shalat dengan hadirnya makanan dan tidak ada shalat pula bagi orang yang didorong oleh kedua yang buruk (air kecil dan air besar).”

Para ulama’ memasukkan “buang angin” atau kentut di dalam larangan ini. Pengarang kitab Subul as-Salim menyatakan bahwa kalau yang bersangkutan tidak didorong oleh hal-hal itu, dan hanya sekedar merasakan adanya “panggilan” untuk membuangnya, maka ini tidak termasuk dalam larangan di atas. Bahkan, seandainya dorongan itu ada, maka ini hanya dipahami sebagai larangan makruh, bukannya membatalkan shalat.


7. Bagaimana cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal?

Dijawab oleh : Ustadz Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA

Berbakti kepada kedua orang tua adalah salah satu perintah Allah yang sangat mulia. Nabi Muhammad bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Usayd al-Sa’idi, disebutkan bahwa ada seseorang datang kepada Nabi dan bertanya, “apakah masih ada kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua saya setelah mereka wafat?” Nabi Menjawab, “Ya, berdoa dan memohon ampun untuk keduanya, melaksanakan pesan-pesannya, dan menghubungkan tali kekeluargaan atau silaturrahim kepada mereka yang tidak terjadi hubungan kekeluargaan tanpa keduanya, dan berbuat baik atau menghormati teman-temannya.”

Berdasarkan hadis di atas, mendoakan saja tidak cukup tetapi harus dibarengi dengan melaksanakan segala pesan-pesannya dan menjaga persaudaraan antar keluarga.


8. Adakah ketentuan menstruasi dalam Islam?

Dijawab oleh : Ustadz Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA

Ada. Ulama’ sepakat bahwa minimal menstruasi adalah darah yang dikeluarkan oleh perempuan dalam keadaan sehat pada usia 9 tahun dalam hitungan bulan hijriah. Minimal menstruasi adalah sehari semalam. Sedangkan secara umum, perempuan mengeluarkan darah selama 6-7 hari. Adapaun maksimal masa menstruasi adalah 15 hari.


9. Bolehkah memotong kuku dan rambut saat menstruasi bagi perempuan?

Dijawab oleh : Ustadz Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA

Tidak ada larangan baik dalam Al-Quran dan Hadits secara eksplisit yang menjelaskan tentang larangan ini. Akan tetapi Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin berpendapat bahwa memotong kaki dan rambut hukumnya makruh sebelum mandi besar. Larangan ini didasarkan pada bahwa kelak di hari kiamat, seluruh anggota tubuh manusia akan dikembalikan Allah utuh, dan itu berarti anggota yang terpotong di luar waktu suci itu akan bangkit dalam keadaan tidak suci.

Pendapat ini dinilai lemah karena Allah akan membangkitkan badan-badan yang baru sebagaimana dalam QS. Thaha [20]: 125 “Tuhanku, mengapa engkau membangkitkanku (di Padang Mahsyar) dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya –yakni ketika di dunia- adalah seorang yang bisa melihat?

Atas dasar ini, kita berpendapat bahwa pendapat yang melarang memotong rambut dan kuku saat menstruasi adalah boleh dan bukan larangan secara mutlak.


10. Kapan waktu yang tepat mengajarkan anak sholat?

Dijawab oleh : Ustadz Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA

Tidak ada waktu yang pasti untuk mengajarkan anak untuk sholat karena setiap anak memiliki masa tumbuh kembang yang berbeda. Akan tetapi pembelajaran sholat bisa disesuaikan dengan usia anak melalui metode yang ringan, misalnya dengan membelikan peci, sajadah kecil, mukena, dan kemudian diajak untuk sholat. Pendidikan ini juga dilakukan oleh Nabi Muhammad dengan membiarkan cucunya menunggangi beliau ketika sujud. Ketika selesai sholat, Nabi saw. menjelaskan bahwa “Cucuku menunggangi punggungku ketika sujud, dan aku enggan mengangkat kepala dari sujud sebelum ia puas.”

Nabi menganjurkan agar anak diajar sholat dengan syarat-syarat umum dalam gerakan-gerakannya dan bacaan yang minimal. Pertama dengan mengajarkan Al-Fatihah, lalu bacaan tasyahud, dll. Itu semua sambil memberi penjelasan sederhana tentang makna sholat, yakni bahwa sholat adalah ibadah, lahir dan batin, disiplin dan tanda syukur kepada Allah. Dengan pembiasaan ini secara konsisten, diharapkan ketika usia 10, anak sudah dapat melaksankan shalat secara mandiri.