Bulan Ramadan adalah bulan dakwah. Pada bulan inilah masjid-masjid ramai dengan berbagai kegiatan ibadah dan majelis ilmu. Setelah salat tarawih, jamaah biasanya duduk sejenak untuk mendengarkan kultum atau tausiyah singkat yang berisi nasihat keimanan, ajakan memperbaiki akhlak, serta pengingat tentang keutamaan ramadan. Tradisi kultum ini telah menjadi bagian penting dari kehidupan umat Islam di berbagai tempat.
Namun jika kita perhatikan dengan saksama, kultum di masjid hampir selalu disampaikan oleh laki-laki. Padahal jamaah yang hadir di masjid tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan yang datang dengan semangat yang sama untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Kondisi ini mengundang sebuah refleksi penting, sudahkah masjid memberi ruang bagi perempuan untuk turut menyampaikan dakwah?
Padahal Al-Qur’an menegaskan bahwa tugas menyeru kepada kebaikan bukan hanya untuk laki-laki, namun juga perempuan. Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar…”
(QS. At-Taubah: 71)
Ayat ini menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan adalah mitra dalam membangun masyarakat yang beriman dan berakhlak. Mereka bersama-sama memiliki tanggung jawab amar makruf nahi munkar.
Memberi ruang bagi perempuan untuk menyampaikan kultum di masjid, terutama pada bulan ramadan, sebenarnya merupakan wujud dari pengamalan ayat tersebut. Ketika perempuan yang memiliki ilmu dan kemampuan berdakwah diberi kesempatan untuk berbicara, maka pesan-pesan kebaikan dapat menjangkau lebih luas dan lebih beragam.
Perempuan Berperan Penting dalam Sejarah Islam
Sejarah Islam menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam transmisi ilmu keagamaan. Salah satu contoh paling terkenal adalah Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar r.a., istri Nabi Muhammad saw. Beliau dikenal sebagai salah satu perawi hadis terbesar dalam sejarah Islam. Riwayat yang disampaikan Aisyah mencapai lebih dari dua ribu hadis dan menjadi rujukan penting dalam berbagai persoalan fikih dan kehidupan Rasulullah.
Tidak hanya meriwayatkan hadis, Aisyah juga menjadi guru bagi banyak sahabat dan tabi’in. Para sahabat bahkan datang kepadanya untuk menanyakan persoalan agama. Dalam catatan sejarah, ratusan murid belajar kepada Aisyah, baik laki-laki maupun perempuan.
Selain Aisyah, terdapat banyak sahabat perempuan yang juga meriwayatkan hadis dan menyampaikan ilmu. Para sejarawan mencatat bahwa lebih dari seratus sahabat perempuan terlibat dalam periwayatan hadis, termasuk Asma binti Abu Bakar, Ummu Salamah, dan Zainab binti Abi Salamah.
Keterlibatan perempuan dalam dunia keilmuan Islam bahkan sangat luas. Dalam catatan para ulama hadis, ratusan perempuan pada abad-abad awal Islam dikenal sebagai pengajar dan periwayat ilmu agama yang kredibel. Sejarah ini menunjukkan bahwa perempuan dalam Islam tidak hanya menjadi pendengar majelis ilmu, tetapi juga menjadi pengajar, penyampai hadis, dan rujukan keagamaan.
Pentingnya Perempuan Diberi Ruang Dakwah
Memberi ruang dakwah bagi perempuan di masjid memiliki makna yang sangat penting bagi kehidupan umat. Pertama, kehadiran penceramah perempuan dapat menghadirkan perspektif yang lebih dekat dengan pengalaman perempuan. Banyak persoalan keagamaan yang berkaitan langsung dengan kehidupan perempuan, seperti ibadah saat menstruasi, pendidikan anak, hingga relasi keluarga. Penjelasan dari seorang perempuan sering kali lebih mudah dipahami oleh jamaah perempuan.
Kedua, dakwah perempuan memperkaya khazanah dakwah Islam. Setiap pendakwah memiliki pengalaman hidup, sudut pandang, dan gaya penyampaian yang berbeda. Ketika perempuan turut berbicara di mimbar dakwah, umat akan mendapatkan perspektif yang lebih luas dalam memahami ajaran Islam terutama yang berkaitan dengan isu perempuan.
Ketiga, memberi ruang dakwah bagi perempuan juga merupakan bentuk penghargaan terhadap ilmu yang mereka miliki. Saat ini semakin banyak perempuan yang mendalami ilmu agama, baik melalui pesantren, maupun lembaga pendidikan keagamaan lainnya. Potensi keilmuan ini tentu dapat memberikan kontribusi besar bagi umat.
Masjid sebagai Ruang Bersama
Masjid dalam Islam adalah rumah Allah yang terbuka bagi seluruh umat. Rasulullah Saw bahkan mengingatkan agar perempuan tidak dihalangi untuk datang ke masjid. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:
“Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah pergi ke masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki tempat dalam kehidupan masjid. Jika perempuan memiliki hak untuk hadir dan beribadah di masjid, maka memberi ruang bagi mereka untuk berkontribusi dalam dakwah juga merupakan bagian dari memakmurkan masjid.
Ramadan sebagai Momentum Dakwah yang Inklusif
Momentum ramadan yang ramai dengan kegiatan dakwah Islam, sebenarnya dapat menjadi kesempatan bagi pengurus masjid untuk mulai memberi ruang bagi dakwah perempuan. Misalnya dengan memberikan kesempatan kepada perempuan untuk menyampaikan kultum pada waktu tertentu, atau mengadakan kajian khusus yang diajarkan oleh perempuan yang memiliki kapasitas keilmuan.
Langkah kecil seperti ini dapat menjadi awal dari tradisi dakwah yang lebih inklusif dan berkeadilan. Karena tujuan dakwah bukanlah siapa yang berbicara di mimbar, tetapi bagaimana pesan kebaikan dapat sampai kepada hati manusia.
Ramadan mengajarkan kita tentang kebersamaan dalam kebaikan. Jika laki-laki dan perempuan sama-sama diperintahkan untuk menjadi penyeru kebaikan, maka memberi ruang dakwah bagi perempuan di masjid adalah bagian dari upaya memakmurkan rumah Allah dan menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam yang kaya dan beragam.
Laily Nur Zakiya, S.Ag, M.Pd, Ustadzah di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadzah Laily Nur Zakiya, S.Ag, M.Pd? Silakan klik disini